Header Ads

Inovasi Alat Pemingsan Udang


            Anda penyuka kuliner udang atau lobster? Kenikmatan udang yang masih segar memang memiliki sensasi yang berbeda dibandingkan dengan udang yang sudah mati. Ternyata, santapan yang terkenal mahal
ini mempunyai kerumitan tersendiri bila anda menginginkannya dalam keadaan segar.
Untuk mendapatkan udang yang segar membutuhkan system yang tidak mudah. Bagi para petani udang, memindahkan udang dari tangan mereka ke para pengusaha udang tidak dapat diperkirakan kuantitasnya. Permasalahannya, dalam transportasi untuk udang yang menjadi primadona eksportir, para petani udang harus menyiapkan es balok yang cukup. Udang yang dikemas, dikirim menuju alamat tujuan. Para penerima harus menerima kiriman udang yang hidup hanya sepertiganya.
            Keuntungan yang didapatkan para petani akan berkurang bila udang kirimannya mati selama perjalanan ke pengusaha udang maupun eksportir. Harga jual udang yang mati mempunyai nilai yang rendah dibandingkan dengan udang yang hidup. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, sudah banyak dilakukan berbagai inovasi dari para peneliti. Namun, tidak ada yang dapat mempertahankan udang dalam kondisi hidup hingga 100%.
Permasalahan-permasalahan kematian udang yang dalam transportasi dilihat oleh Dr Sam Herodian sebagai ide untuk mengembangkan alat pemingsan udang. “ide awalnya berasal dari sendiri yaitu mentransportasikan udang dalam keadaan hidup tidak menggunakan air”, ungkap Dekan Fakultas Teknik Pertanian, Institut Pertanian Bogor ke TROBOS.
            Media transportasi dengan menggunakan air juga menjadi permasalahan klasik. Penggunaan air akan menambah bobot dari kemasan, yang berarti akan menambah biaya pengiriman. Inovasi yang dilakukan oleh Dr Sam Herodian mampu memingsankan udang selama 24 – 48 jam tanpa media air. Keunggulan inilah yang menjadikan inovasi alat pemingsan udang masuk ke dalam 101 Inovasi Indonesia tahun 2009.

Inovasi Mesin Pemingsan Udang
            Dalam mengembangkan mesin pemingsan udang, Dr Sam Herodian tidak sendirian dalam berbagai ujinya. Dr Sam dibantu oleh para dosen-dosen dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB untuk menguji fisiologi, karakter serta ketahanan dari udang. Pada pengembangan secara mesin, Dr Sam membuat alat ini dengan dimensi yang lebih kecil, sehingga lebih handy. Untuk transportasinya diperlukan container yang suhunya bisa diatur.  Untuk udang, diperlukan suhu 15,5 derajat Celsius untuk batas pingsannya.
            Mekanisme system terpadu dari alat terdiri dari berbagai tahapan. Tahap pertama, udang tidak diberi makan selama 12 jam. Udang tersebut ditampung dalam bak yang disesuaikan keasaman, kadar garam, suhu normal dengan habitat udang. Selanjutnya, udang dipindahkan ke bak pemingsan yang terhubung ke mesin pemingsan yang menggunakan water chiller yang diatur secara elektrik. Bak ini harus diisi air dan dipasang aerator.
            Tahap berikutnya, suhu diturunkan secara perlahan dan bertahap hingga mencapai 15,5 derajat Celsius. Setelah udang pingsan, udang dibiarkan selama 10 – 20 menit. Udang yang sudah pingsan bisa diangkat untuk dimasukkan kotak pengemas. Selain udang, di dalam kotak diisi oleh gergaji basah atau busa basah. Sebaiknya, kotak pengemasan menggunakan gabus untuk mendapatkan bobot yang ringan dan menjaga kestabilan suhu.
            Kotak pengemasan yang berisi udang, dimasukkan ke dalam container yang sudah diatur suhunya. Untuk pengiriman dengan jarak yang jauh, misalnya ke beda negara, diperlukan pesawat dengan ruang yang dapat diatur suhunya. Sebagai penerima, harus mempersiapkan juga container yang suhunya sama dengan suhu container sewaktu berangkat. Pengaturan suhu dalam berbagai tempat ini dikarenakan untuk menghindari kematian udang.
            Untuk membangunkan kembali udang yang pingsan, hanya diperlukan bak yang berisi air. Udang dimasukkan ke bak tersebut secara perlahan-lahan dan satu persatu. Setelah itu, udang akan sadar kembali, dan terlihat segar. System transportasi udang dengan mesin pemingsan udang sangat ramah lingkungan, tidak ada bahan kimia yang masuk selama proses pemingsanannya. Udang yang segar pun akan mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan udang yang mati.  
            Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Sam Herodian, didapatkan tingkat kelangsungan hidup udang mencapai 100 persen bila dalam kondisi sempurna. Penurunan suhu 5 derajat Celsius secara bertahap tiap jam menjadi kunci dari kesuksesan inovasi mesin pemingsan udang. Setelah udang pingsan, udang dimasukkan dalam ruang yang berada pada suhu kamar. Dilihat dari lamanya waktu simpan, tingkat kelangsungan hidup udang berbeda-beda. Untuk jangka waktu 18 jam, udang yang bertahan hidup sekitar 91,7 persen. Semakin lamanya waktu, penyimpanan mengurangi tingkat kelangsungan hidup. Tingkat kelangsungan hidup udang hanya 72,9 persen bila disimpan selama 24 jam. 
            Dibalik berbagai macam kelebihan yang dirancang untuk mesin pemingsan udang, ada satu permasalahan dalam pengembangannya. Menurut Sam, mesin yang dirancangnya, haruslah berdasarkan system terpadu, tidak boleh ada yang kurang. “para pengusaha keberatan untuk menggunakan container kembali bila udang sudah sampai di tujuan, padahal berangkatnya udang sudah sesuai dengan prosedur”, imbuh Sam yang menyayangkan system terpadunya dianggap memberatkan para pengusaha atau eksportir.

Mesin Dapat Digunakan untuk Memingsankan Ikan

            Dr Sam Herodian tidak hanya merancang inovasinya untuk udang, namun juga bisa dipakai untuk memingsankan ikan. Ide utamanya adalah mempertahankan kualitas ikan segar, sehingga keuntungan yang diterima oleh petani tidak berkurang dikarenakan kematian ikan. Untuk para sebagian petani, transportasi ikan tidak serumit dibandingkan udang. Mereka terbiasa menggunakan kantong plastic dengan oksigen murni, ataupun dengan es. Namun, mereka akan kesulitan bila dihadapkan pemesanan ikan dengan jarak yang cukup jauh, misalnya ke luar negeri.
            Sistem yang dipakai untuk memingsankan ikan, sama prinsipnya dengan udang, yaitu dengan penurunan suhu secara bertahap. Suhu yang tepat memingsankan ikan tergantung dari jenis ikan. Misalnya, untuk memingsankan ikan emas, memerlukan suhu 6 derajat Celsius. Untuk ikan lele, memerlukan suhu 3 derajat Celsius. Suhu yang diturunkan lebih banyak daripada udang yang akan pingsan pada 15,5 derajat Celsius.
            Untuk pemingsanan ikan, juga diperlukan system terpadu seperti halnya udang. Ikan yang dipingsankan membutuhkan berbagai ruang yang disesuaikan suhunya, mulai dari kotak pengemasan hingga pengangkutan dengan menggunakan container serta pesawat. Ikan akan mati dalam perjalanan bila suhu meningkat, dan ikan terbangun. Ikan akan kaget, dikarenakan  mendapati tidak adanya air di sekelilingnya.
            Dr Sam Herodian sendiri sudah mendaftarkan paten untuk inovasinya, dengan mematenkan mesin pendingin air secara elektronik (water chiller), bak pemingsanan, dan aerator untuk menjaga kandungan oksigen di bak pemingsanan. Keistimewaan dari mesin yang dirancangnya adalah adanya perlakuan khusus dan tertentu, sehingga ikan atau udang tidak mati.  

Ekonomis dan Efisien
            Secara ekonomis, menggunakan mesin pemingsan udang/ikan karya Dr Sam Herodian, akan meningkatkan pendapatan dari para petani udang/ikan maupun pengusaha udang/ikan. Tingkat kelangsungan hidup yang dapat mencapai 100 persen menjadi pertimbangan yang tepat memilih inovasi ini untuk keperluan transportasi udang/ikan. Kualitas udang/ikan yang didapatkan jauh lebih tinggi. Sehingga akan didapatkan harga jual dari udang/ikan segar empat kali lipat lebih besar dibandingkan harga jual udang/ikan yang mati.
Untuk para pengusaha atau eksportir yang berminat, harus juga mempertimbangkan system terpadu yang diterapkan oleh Dr Sam Herodian untuk ke depannya. Biaya yang dikeluarkan awalnya akan terfokus untuk system terpadu yaitu penyewaan ataupun pembelian container yang sesuai dengan prosedur, baik oleh pengirim maupun penerima. Namun, investasi container ini akan seimbang dengan pemasukan dari penjualan udang/ikan segar.
           
Waktu
18 Jam
21 jam
24 Jam
Kondisi
 sempurna
Tingkat Kelangsungan Hidup (%)
91,7
84,4
72,9
100
Tabel Tingkat Kelangsungan Hidup untuk Udang.
           
           

Penulis

Azzahra Khairunnisa
@nizcha0804
nizcha0804@gmail.com
Diberdayakan oleh Blogger.