Inovasi Alat Pemingsan Udang
(Sumber : http://itscrea.wordpress.com)
Anda
penyuka kuliner udang atau lobster? Kenikmatan udang yang masih segar memang
memiliki sensasi yang berbeda dibandingkan dengan udang yang sudah mati.
Ternyata, santapan yang terkenal mahal
ini mempunyai kerumitan tersendiri bila
anda menginginkannya dalam keadaan segar.
Untuk mendapatkan udang
yang segar membutuhkan system yang tidak mudah. Bagi para petani udang,
memindahkan udang dari tangan mereka ke para pengusaha udang tidak dapat
diperkirakan kuantitasnya. Permasalahannya, dalam transportasi untuk udang yang
menjadi primadona eksportir, para petani udang harus menyiapkan es balok yang
cukup. Udang yang dikemas, dikirim menuju alamat tujuan. Para penerima harus
menerima kiriman udang yang hidup hanya sepertiganya.
Keuntungan
yang didapatkan para petani akan berkurang bila udang kirimannya mati selama
perjalanan ke pengusaha udang maupun eksportir. Harga jual udang yang mati
mempunyai nilai yang rendah dibandingkan dengan udang yang hidup. Untuk
mengatasi permasalahan tersebut, sudah banyak dilakukan berbagai inovasi dari
para peneliti. Namun, tidak ada yang dapat mempertahankan udang dalam kondisi
hidup hingga 100%.
Permasalahan-permasalahan
kematian udang yang dalam transportasi dilihat oleh Dr Sam Herodian sebagai ide
untuk mengembangkan alat pemingsan udang. “ide awalnya berasal dari sendiri
yaitu mentransportasikan udang dalam keadaan hidup tidak menggunakan air”,
ungkap Dekan Fakultas Teknik Pertanian, Institut Pertanian Bogor ke TROBOS.
Media
transportasi dengan menggunakan air juga menjadi permasalahan klasik.
Penggunaan air akan menambah bobot dari kemasan, yang berarti akan menambah
biaya pengiriman. Inovasi yang dilakukan oleh Dr Sam Herodian mampu
memingsankan udang selama 24 – 48 jam tanpa media air. Keunggulan inilah yang
menjadikan inovasi alat pemingsan udang masuk ke dalam 101 Inovasi Indonesia
tahun 2009.
Inovasi
Mesin Pemingsan Udang
Dalam
mengembangkan mesin pemingsan udang, Dr Sam Herodian tidak sendirian dalam
berbagai ujinya. Dr Sam dibantu oleh para dosen-dosen dari Fakultas Perikanan
dan Ilmu Kelautan, IPB untuk menguji fisiologi, karakter serta ketahanan dari
udang. Pada pengembangan secara mesin, Dr Sam membuat alat ini dengan dimensi
yang lebih kecil, sehingga lebih handy.
Untuk transportasinya diperlukan container yang suhunya bisa diatur. Untuk udang, diperlukan suhu 15,5 derajat
Celsius untuk batas pingsannya.
Mekanisme
system terpadu dari alat terdiri dari berbagai tahapan. Tahap pertama, udang
tidak diberi makan selama 12 jam. Udang tersebut ditampung dalam bak yang
disesuaikan keasaman, kadar garam, suhu normal dengan habitat udang.
Selanjutnya, udang dipindahkan ke bak pemingsan yang terhubung ke mesin
pemingsan yang menggunakan water chiller
yang diatur secara elektrik. Bak ini harus diisi air dan dipasang aerator.
Tahap
berikutnya, suhu diturunkan secara perlahan dan bertahap hingga mencapai 15,5
derajat Celsius. Setelah udang pingsan, udang dibiarkan selama 10 – 20 menit.
Udang yang sudah pingsan bisa diangkat untuk dimasukkan kotak pengemas. Selain
udang, di dalam kotak diisi oleh gergaji basah atau busa basah. Sebaiknya,
kotak pengemasan menggunakan gabus untuk mendapatkan bobot yang ringan dan
menjaga kestabilan suhu.
Kotak
pengemasan yang berisi udang, dimasukkan ke dalam container yang sudah diatur
suhunya. Untuk pengiriman dengan jarak yang jauh, misalnya ke beda negara,
diperlukan pesawat dengan ruang yang dapat diatur suhunya. Sebagai penerima,
harus mempersiapkan juga container yang suhunya sama dengan suhu container sewaktu
berangkat. Pengaturan suhu dalam berbagai tempat ini dikarenakan untuk
menghindari kematian udang.
Untuk
membangunkan kembali udang yang pingsan, hanya diperlukan bak yang berisi air.
Udang dimasukkan ke bak tersebut secara perlahan-lahan dan satu persatu.
Setelah itu, udang akan sadar kembali, dan terlihat segar. System transportasi
udang dengan mesin pemingsan udang sangat ramah lingkungan, tidak ada bahan
kimia yang masuk selama proses pemingsanannya. Udang yang segar pun akan
mempunyai nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan udang yang mati.
Dari
hasil penelitian yang dilakukan oleh Dr Sam Herodian, didapatkan tingkat
kelangsungan hidup udang mencapai 100 persen bila dalam kondisi sempurna.
Penurunan suhu 5 derajat Celsius secara bertahap tiap jam menjadi kunci dari
kesuksesan inovasi mesin pemingsan udang. Setelah udang pingsan, udang
dimasukkan dalam ruang yang berada pada suhu kamar. Dilihat dari lamanya waktu
simpan, tingkat kelangsungan hidup udang berbeda-beda. Untuk jangka waktu 18 jam,
udang yang bertahan hidup sekitar 91,7 persen. Semakin lamanya waktu,
penyimpanan mengurangi tingkat kelangsungan hidup. Tingkat kelangsungan hidup
udang hanya 72,9 persen bila disimpan selama 24 jam.
Dibalik
berbagai macam kelebihan yang dirancang untuk mesin pemingsan udang, ada satu
permasalahan dalam pengembangannya. Menurut Sam, mesin yang dirancangnya,
haruslah berdasarkan system terpadu, tidak boleh ada yang kurang. “para
pengusaha keberatan untuk menggunakan container kembali bila udang sudah sampai
di tujuan, padahal berangkatnya udang sudah sesuai dengan prosedur”, imbuh Sam
yang menyayangkan system terpadunya dianggap memberatkan para pengusaha atau
eksportir.
Dr
Sam Herodian tidak hanya merancang inovasinya untuk udang, namun juga bisa
dipakai untuk memingsankan ikan. Ide utamanya adalah mempertahankan kualitas
ikan segar, sehingga keuntungan yang diterima oleh petani tidak berkurang
dikarenakan kematian ikan. Untuk para sebagian petani, transportasi ikan tidak
serumit dibandingkan udang. Mereka terbiasa menggunakan kantong plastic dengan
oksigen murni, ataupun dengan es. Namun, mereka akan kesulitan bila dihadapkan
pemesanan ikan dengan jarak yang cukup jauh, misalnya ke luar negeri.
Sistem
yang dipakai untuk memingsankan ikan, sama prinsipnya dengan udang, yaitu
dengan penurunan suhu secara bertahap. Suhu yang tepat memingsankan ikan
tergantung dari jenis ikan. Misalnya, untuk memingsankan ikan emas, memerlukan
suhu 6 derajat Celsius. Untuk ikan lele, memerlukan suhu 3 derajat Celsius.
Suhu yang diturunkan lebih banyak daripada udang yang akan pingsan pada 15,5
derajat Celsius.
Untuk
pemingsanan ikan, juga diperlukan system terpadu seperti halnya udang. Ikan
yang dipingsankan membutuhkan berbagai ruang yang disesuaikan suhunya, mulai
dari kotak pengemasan hingga pengangkutan dengan menggunakan container serta
pesawat. Ikan akan mati dalam perjalanan bila suhu meningkat, dan ikan
terbangun. Ikan akan kaget, dikarenakan
mendapati tidak adanya air di sekelilingnya.
Dr
Sam Herodian sendiri sudah mendaftarkan paten untuk inovasinya, dengan
mematenkan mesin pendingin air secara elektronik (water chiller), bak pemingsanan, dan aerator untuk menjaga
kandungan oksigen di bak pemingsanan. Keistimewaan dari mesin yang dirancangnya
adalah adanya perlakuan khusus dan tertentu, sehingga ikan atau udang tidak
mati.
Ekonomis
dan Efisien
Secara
ekonomis, menggunakan mesin pemingsan udang/ikan karya Dr Sam Herodian, akan
meningkatkan pendapatan dari para petani udang/ikan maupun pengusaha
udang/ikan. Tingkat kelangsungan hidup yang dapat mencapai 100 persen menjadi
pertimbangan yang tepat memilih inovasi ini untuk keperluan transportasi
udang/ikan. Kualitas udang/ikan yang didapatkan jauh lebih tinggi. Sehingga
akan didapatkan harga jual dari udang/ikan segar empat kali lipat lebih besar
dibandingkan harga jual udang/ikan yang mati.
Untuk para pengusaha
atau eksportir yang berminat, harus juga mempertimbangkan system terpadu yang
diterapkan oleh Dr Sam Herodian untuk ke depannya. Biaya yang dikeluarkan
awalnya akan terfokus untuk system terpadu yaitu penyewaan ataupun pembelian
container yang sesuai dengan prosedur, baik oleh pengirim maupun penerima.
Namun, investasi container ini akan seimbang dengan pemasukan dari penjualan
udang/ikan segar.
Waktu
|
||||
18 Jam
|
21 jam
|
24 Jam
|
Kondisi
sempurna
|
|
Tingkat Kelangsungan Hidup
(%)
|
91,7
|
84,4
|
72,9
|
100
|
Tabel Tingkat Kelangsungan Hidup untuk Udang.
Penulis
Azzahra Khairunnisa
@nizcha0804
nizcha0804@gmail.com

