Header Ads

Aplikasi Sistem Informasi Geografis Dalam Sumber Daya Alam Estimasi Potensi Rotan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kedang Pahu


Aplikasi Sistem Informasi Geografis Dalam Sumber Daya Alam
Estimasi Potensi Rotan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kedang Pahu
Pendahuluan
Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan sistem pengelolaan informasi yang juga
menyediakan berbagai fasilitas analisa data. Sistem ini sangat bermanfaat dalam perencanaan dan pengelolaan SDA. Contoh perangkat lunak yang banyak dipakai adalah ARC/INFO, ArcView, IDRISI, ER Mapper, GRASS, MapInfo. Aplikasi yang digunakan SIG kali ini untuk mengestimasi potensi rotan yang ada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kedang Pahu. Pada aplikasi ini, kita melihat potensi rotan dari berbagai aspek, berdasarkan data penunjang dan pengalaman lapang yang kita miliki. Dalam aplikasi ini, suatu daerah dikategorikan berpotensi rotan tinggi apabila secara biofisik rotan bisa tumbuh dengan baik, dan secara infrastruktur dan secara legal bisa dijangkau oleh masyarakat untuk pemanenan.
Tinjauan Pustaka
Sistim Informasi  Geografis  (SIG)  sebagai  sistim informasi  digital  berbasis spasia telah berkembang menjadi sebuah sistim pendukung pengambilan keputusan. Teknologi SIG telah banyak dimanfaatkan oleh pemerintah kabupaten untuk kajian kewilayahan termasuk    didalamnya wilayah pesisir. Dalam perkembangannya teknologi SIG dirancang untuk  semakin  mudah  digunakan, sehingga  tekonologi  ini  telah  menjangkau  kabupaten/kota  di  Indonesia.  Sistim Informasi Geografis dapat diaplikasikan untuk penyusunan model berbasis spasial termasuk  penyusunan  model  pengelolaan  pesisir  wilayah  kabupaten (www.damandiri.or.id).
Dikutip dari www.damandiri.or.id menyatakan  bahwa  sumber  data  yang  diperlukan  untuk proses dalam SIG secara umum dibedakan atas tiga kategori yaitu: 1) Data survey lapangan (berupa data digital dan data atribut); 2) Data peta, merupakan informasi yang  telah  terekam  pada  peta,  kertas  atau  film  yang  telah  dikonversikan  dalam bentuk  dgital,  dan  bila  telah  terekam  dalam  bentuk  peta  maka  tidak  diperlukan lagi data lapang kecuali untuk keperluan Ground Check; 3) Data inderaja, berupa foto udara dan citra satelit.
Metodologi
Asumsi yang digunakan
o   Rotan yang bisa dipanen ada di daerah dengan tutupan lahan belukar tua (di atas 10 tahun) dan hutan.
o   Berjarak kurang dari 4 km dari pemukiman atau kurang dari 4 km dari sungai yang bisa dicapai kurang dari 8 jam perjalanan menggunakan ketinting dari pemukiman.
o   Secara biofisik areal tersebut cocok untuk tumbuhnya rotan.
o   Seandainya terkena kebakaran pada tahun 1997 hanya sampai tingkat 0-1.
o   Tidak terdapat pada area di sekitar jalan logging, HTI, perkebunan dan pertambangan.
Identifikasi data dasar
Data-data dasar yang dapat dikumpulkan adalah:
o   Peta Jaringan Sungai. Data tersebut diambil dari peta topografi skala 1:50.000 dari BAKOSURTANAL.
o   Peta Jaringan Jalan. Diambil dari peta topografi skala 1:50.000 produksi Bakosurtanal dan delineasi dari Landsat TM.
o   Peta Pemukiman. Diambil dari peta topografi skala 1:50.000 produksi Bakosurtanal.
o   Peta Penutupan Lahan 1996. Merupakan hasil klasifikasi citra Landsat TM.
o   Peta Kebakaran Hutan 1997/1998 produksi GTZ/IFFM.
o   Peta Kesesuaian Lahan 1:250.000 produksi RePPProT.
o   Peta DEM
Proses pengolahan data dasar
1.    Dari data jaringan sungai dilihat dari dua aspek yaitu aspek biofisik dan aspek aksesibilitas.
o   Aspek biofisik, Potensi rotan dihitung berdasarkan estimasi mengenai tempat dimana dia dapat tumbuh yang direpresentasikan menurut jaraknya dari sungai. Kemudian dari jarak yang didapat diberi skor menurut prioritas ditemukannya (1:0-0.5 km, 3: > 5.0 km, 8:3.0-5.0 km, 10:0.5-3.0).
o   Aspek aksesibilitas, Potensi rotan dihitung berdasarkan tingkat kemudahannya dicapai melalui sungai. Dari jarak yang didapat diberi skor (2:>4 km, 5:2-3 km, 8:1-2 km, 10:0-1 km).
2.    Data jaringan jalan juga dilihat dari dua aspek:
o   Aspek biofisik, Potensi rotan dihitung berdasarkan kemungkinan tumbuhnya di sekitar jalan. Mula-mula buat buffer 5 km untuk masing-masing kelas jalan dengan asumsi bahwa lebih dari 5 km sudah tidak ada pengaruh jalan terhadap kemungkinan tumbuhnya rotan. Kemudian beri skor berdasarkan kelas jalan (1:Jalan PU, 3: Jalan aspal, 5: Jalan tambang, 7:Jalan logging, 10:Jalan swadaya).
o   Aspek aksesibilitas, Potensi rotan dihitung berdasarkan kemudahan dicapai dari lokasi pemukiman. Pertama-tama buat buffer sebesar 30 km dari pemukiman, kemudian ekstrak hanya jalan kelas 1, 3 dan 4 yang tercakup dalam buffer. Beri skor berdasarkan jarak tempuh (1:>6 km, 5:4-6 km, 10:0-4 km).
3.    Berdasarkan aksesibilitasnya dari pemukiman, potensi rotan dihitung berdasarkan kemauan petani berjalan kaki dari pemukiman untuk mencapai area dimana rotan ditemukan. Skor dibuat berdasarkan waktu tempuh (1:>10 jam, 4:7-10 jam, 8:4-7 jam, 10:0-4 jam).
4.    Berdasarkan penutupan lahan yang ada dicari kemungkinan daerah tumbuhnya rotan, lalu diberi skor berdasarkan potensinya (1:daerah terbuka, alang-alang, karet, 2:semak, 6:hutan, 8:belukar muda, 10:belukar tua).
5.    Dari peta kebakaran hutan dicari tingkat kerusakan karena kebakaran, lalu diberi skor potensi kemungkinan tumbuhnya rotan (1:tingkat kerusakan sedang dan tinggi, 10: tidak terbakar dan tingkat kerusakan rendah).
6.    Berdasarkan peta Kesesuaian Lahan untuk agro-forest, beri skor potensi rotan (1:tidak sesuai, 10:sesuai).
7.    Dari peta DEM dibuat peta kelerengan, kemudian beri skor potensi rotan (1:>40%, 4:25-40%, 6:15- 25%, 8:8-15%, 10:0-8%).
Pelaksanaan pemodelan
Overlay-kan hasil yang didapat berdasarkan skema pembobotan yang dibuat berdasarkan pengalaman pemodel, sebagai berikut:

Gambar 1. Flowchart pengolahan data
Hasil dan Pembahasan
Overlay multiple layer potensi rotan berdasarkan masing-masing variabel dengan skema pembobotan yang disesuaikan dengan expert judgement, menggunakan ArcView/Model Builder.
Adapun hasil proses data dasar yang dijalankan untuk mengestimasi potensi rotan yang ada adalah sebagai berikut:
Gambar 2. Hasil proses peta dasar

Gambar 3. Hasil akhir: Peta Potensi Rotan
Gambar 4. Tabel estimasi potensi rotan per kecamatan per kelompok potensi (atas),
(kanan bawah) Luas lahan (ha) per kecamatan per kelompok potensi,
(kiri bawah) estimasi potensi rotan per kecamatan per kelompok potensi

Hasil estimasi yang diperoleh sangat tergantung kepada asumsi yang dipakai; semakin dekat asumsi yang dipakai dengan kenyataan, semakin akurat estimasi yang dihasilkan.
Keterbatasan data juga mempengaruhi hasil estimasi, contoh: citra yang tertutup awan dan
ketiadaan peta kontur untuk sebagian area menjadi faktor penghambat dalam mendapatkan estimasi dari seluruh area. Dalam menginterpretasi hasil estimasi untuk perencanaan business dan management terutama yang berbasiskan masyarakat lokal, kita harus mempertimbangkan banyak faktor lain seperti kebijakan, institusi, pasar, persepsi masyarakat, mata pencaharian lain, dsb.

Daftar Pustaka
25 Desember 2009 12:15.
Hartami, P. Analisis Wilayah Perairan Teluk Pelabuhan Ratu Untuk Kawasan Budidaya Perikanan
Sistem Keramba Jaring Apung. Diunduh dari www.damandiri.or.id. 25 Desember 2009
12:10.


Diberdayakan oleh Blogger.