Alat Pemanen Udang dan Ikan
Alat
Pemanen Udang dan Ikan
Cara
yang paling modern (Mujiman dan Suyanto, 2004) adalah dengan mempergunakan
jaring di bagian mulutnya dialiri listrik dan ditarik oleh 3-4 orang dengan
mengelilingi tambak. Namun, metode ini masih menyisakan udang cacat.
Bagi,
petani memanen udang dengan tambak seluas 5000 m² selama 6 – 9 jam sudah
menjadi rutinitasnya di kala musim panen. Secara efisien waktu, metode tersebut
dinilai tidak efisien. Menilik permasalahan-permasalahan cara pemanenan udang,
Dr. Ir. Sam Herodian, M.Sc membuat inovasi “Mesin Pemanen Udang”. Dengan
inovasinya, Sam menjanjikan permasalahan untuk pemanenan dapat teratasi dengan baik.
Untuk
mendesain dan memproduksi inovasinya, Sam dibantu oleh para mahasiswa dari
Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Sam merancang mesinnya
untuk mengefisienkan waktu para petani serta mempertahankan kualitas udang. “Sebenarnya,
mesin pemanen udang sudah banyak mengembangkannya, terutama dari luar negeri.”
Ujar Sam. Namun, mesin yang sudah ada tidak mampu mengatasi
permasalahan-permasalahan saat pemanenan.
Kekurangan
mesin yang dibuat oleh produsen dari luar negeri adalah mekanismenya yang
mengharuskan udang yang dipanen melewati alat pendorong (impeller). “Udang yang melewati impeller
akan menimbukan kerusakan sebagian udang yang dipanen. Tingkat kecacatannya
masih ±5%,” ujar Sam yang berprofesi sebagai Dekan Fakultas Teknologi Pertanian
(FATETA), Institut Pertanian Bogor.
Sam
menegaskan bahwa pemanenan udang yang menggunakan mesin pemanen udang yang
dibuatnya dapat menekan kecacatan udang hingga 0%. Kelebihan alat ini tentunya
dinantikan oleh para petani, dikarenakan udangnya akan meningkat secara
kualitas maupun kuantitas. Dengan demikian, petani akan mendapatkan hasil panen
secara optimal.
Secara
ekonomi, keuntungan tidak semata dirasakan oleh para petani udang, tetapi juga
dinikmati oleh para penjual dan konsumennya. Untuk para penjual udang, kualitas
udang yang baik akan mempunyai harga jual yang tinggi. Sedangkan untuk
konsumennya, udang yang disantapnya mempunyai citarasa dan gizi yang tinggi.
Kerja keras Sam membuat inovasi
mesin pemanen udang, berhasil mengantarkan karyanya masuk 103 Inovasi Indonesia
Paling Prospektif 2011 yang didukung oleh Kementerian Riset dan Teknologi
Republik Indonesia (Ristek). Untuk itu, Sam memproses inovasinya untuk
mendapatkan proses Hak Kekayaan Intelektual (HKI).
Memanen Ikan
Untuk para petani ikan, pemanenan ikan
dilakukan setelah pemeliharaan ikan selama tiga bulan atau lebih. Cara
pemanenan ikan biasanya menggunakan jaring ataupun dengan mengeringkan kolam
atau tambak. Permasalahan yang dihadapi oleh para petani ikan hampir sama
dengan petani udang, yaitu efisien waktu serta kualitas komoditasnya. Mesin
pemanen udang yang dirancang Sam, dapat digunakan untuk komoditi ikan. Sam
sengaja membuat mesinnya menjadi multifungsi.
Ikan-ikan
yang dipanen juga akan berkualitas dan bernilai tinggi dikarenakan tidak adanya
kecacatan pada tubuhnya. Namun, untuk komoditi ikan, ukuran yang bisa
dimasukkan ke mesin pemanen, hanya yang mempunyai lebar 2 – 3 inchi. Hal ini
dikarenakan selang yang dipasang berukuran 4 inchi. Sedangkan panjang ikan yang
bisa masuk berukuran kurang dari 5 meter, sesuai dengan panjang selang yaitu 5
meter.
Cara Kerja
Bagian
dari mesin sendiri terdiri dari 2 selang penyedot, 2 tabung penjebak dan sebuah
pompa penyedot. Untuk menggunakan mesin pemanen udang atau ikan ini dapat
dibilang mudah. Sam menjelaskan bahwa mesin bekerja dengan cara vacuum atau penyedotan. Target pemanenan
akan tersedot oleh pompa sentrifugasi melalui selang berserat. Selain udang
atau ikan yang tersedot, pompa juga menyedot air tambak. Kemudian, dialirkan
menuju tabung penjebak atau fish/shrimp trap.
“Komponen utama dari mesin ini, yang
paling penting adalah fish trap.
Kedua, adalah pompanya sendiri.” Papar Sam menjelaskan kinerja mesinnya.
Menurut Sam, tabung penjebak yang dibuatnya untuk menyimpan komoditas. Sam
menekankan bahwa dengan masuknya komoditas ke tabung penjebak, tidak akan terkena
pukulan impeller yang mengakibatkan
komoditas terpotong bahkan mati. Sehingga, komoditas yang dipanen akan tetap
baik, tidak mengalami kerusakan atau kecacatan.
Tabung
penjebak yang dirancang oleh Sam terdiri dari 2 bagian. Tabung pertama dibuat
untuk menampung sementara udang atau ikan. Sedangkan air tambak yang masuk ke
dalam mesin, dibuang atau dikembalikan ke tambak. Di tabung penjebak pertama,
aliran udang atau ikan setelah mencapai jumlah tertentu, akan dialihkan ke
tabung penjebak kedua.
Setelah komoditi masuk ke tabung
penjebak kedua, maka dapat dilakukan pemanenan di tabung penjebak pertama.
Sistematika cara pemanenan tersebut sudah bekerja secara sistematis pada mesin
pemanen ini. Sistem kerja dan spesifikasi mesin berbeda sekali dengan mesin
sejenis yang sudah dijual di pasaran.
Untuk
lamanya pemanenan dengan mesin pemanenan buatan Sam Herodian, hanya memerlukan
waktu 2 – 3 ton komoditi per jam. Waktu yang sangat cepat untuk skala pemanenan
udang atau ikan dibandingkan dengan metode manual maupun dengan produk sejenis
yang sudah dijual.
Bila
kita membandingkan produk buatan Sam Herodian dengan produk sejenis yang
terlebih dahulu, dipastikan kenyamanan pengguna serta keluaran komoditas
melalui mesin buatan Sam jauh lebih baik. Sam mempelajari kekurangan-kekurangan
yang terdapat pada mesin terdahulu yang hanya terpusat pada keselamatan dari
pengguna tanpa memperhatikan kualitas keluaran komoditas.
Harga
yang dipasang oleh Sam untuk satu produk mesin yang dibuatnya adalah Rp 50
juta. Menurut Sam, harga tersebut termasuk murah bila dibandingkan dengan
produk sejenis buatan luar negeri yang sudah beredar di pasaran. Untuk produksi
massal, Sam belum berani melakukannya. Keterbatasan dana dalam produksi menjadi
kendala utamanya.
Penulis
Azzahra Khairunnisa
@nizcha0804