Transplantasi Sel Testikular Ikan Gurame Osphronemus gouramy Pada Ikan Nila Oreochromis niloticus
Keberhasilan inovasi di bidang rekayasa
reproduksi akan memiliki nilai prospek yang tinggi. Sehingga, diharapkan dapat
diaplikasikan untuk perbanyakan benih suatu jenis ikan atapun untuk konservasi.
Peningkatan
produksi gurame dari tahun ke tahun yang meningkat, dijadikan alasan pemerintah
untuk membuat gurame sebagai salah satu target komoditas yang perlu
ditingkatkan tiap tahun. Dilihat dari aspek ekonomis, permintaan gurame tinggi.
Rasanya yang gurih, dan dagingnya yang padat menjadikan gurami salah satu ikan
konsumsi favorit.
Di masa produksinya, ikan yang
memiliki tubuh lebar dan pipih ini memerlukan waktu 3 tahun atau lebih untuk
tumbuh menjadi indukan. Faktor ini yang menjadi motivasi kuat Dr. Ir.
Alimuddin, M.Sc untuk melakukan penelitian transplantasi sel testicular ikan
gurame pada ikan nila.
Sebelumnya, Alimuddin berpegangan
pada penelitian yang dilakukan di Jepang tahun 2006. Di negeri sakura tersebut,
melakukan transplantasi sel testicular ikan salmon dititipkan ke ikan rainbow.
Tujuannya untuk melestarikan keberadaan ikan salmon.
Pada penelitiannya, Alimuddin
memilih ikan nila sebagai indukan dari ikan gurame dikarenakan nila memiliki
waktu pembesaran lebih cepat, yaitu 4 – 6 bulan. Waktu yang lebih cepat
daripada indukan ikan gurame sendiri. Pemeliharaan ikan nila sendiri lebih
mudah, di akuarium. Hal ini memberikan keuntungan tersendiri dibandingkan
dengan pemeliharaan ikan gurame di kolam besar.
“Tanpa teknologi, lebih lama matang gonad, susah dikendalikan.” Ucap
Alimuddin kepada Trobos Aqua. Penerapan teknologi dapat dilakukan pada segala jenis
ikan. Teknologi transplantasi yang dilakukan oleh Alimuddin, yang juga
berprofesi sebagai dosen Budidaya
Perairan, Institut Pertanian Bogor ini ditujukan untuk rekayasa reproduksi.
Alimuddin
menambahkan, “keberhasilan ini (penelitian), akan memiliki peranan yang besar
sekali.” Sehingga, prospek ke depannya dapat membantu para petani ikan untuk
memenuhi permintaan pasar. Tidak hanya itu, keberadaan ikan yang akan punah
juga akan terjaga.
Di
penelitian ini, Alimuddin memilih ikan
gurame jantan dengan bobot 500 gram.
Sementara
itu, indukan ikan nila dipilih yang berbobot 350-500 gram dengan jenis strain
nila BEST (Bogor Enhanced Strain Tilapia).
Jenis ini diperoleh dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor.
Fekunditas nila tersebut mempunyai jumlah telur 800-1500 butir per ekor.
Akuarium berukuran 60x50x50 cm3
digunakan sebagai wadah pembesarannya. Air yang dimasukkan ke dalam akuarium
sebanyak tiga perempat bagian dari volume total akuarium. Untuk satu akuarium,
diisi satu indukan nila untuk mempertahankan penampilan fisik ikan serta
memudahkan pemijahan.
Tahapan pertama, adalah
mempersiapkan resipien (penerima) untuk transplantasi. Indukan nila dipijahkan
secara alami dengan perbandingan jantan dan betina 1:1. Indukan akan
mengeluarkan telur 1-2 kali. Kedua induk ikan tersebut diambil dan disimpan dalam
wadah terpisah. Telur sebanyak 150 butir dicampurkan dengan sperma sebanyak
0,15 – 0,2 ml ke dalam cawan petri. Kemudian, ditambahkan larutan fisiologis
(NaCl 0,9%). Telur dan sperma tersebut diaduk dengan bulu ayam. Setalah itu, air
diberikan ke dalam campuran telur dan sperma.
Pencampuran telur, sperma dan air
terhitung sebagai masa pembuahan. Setelah proses pencampuran, dibiarkan selama
3 menit. Sisa-sisa sperma dibuang atau dipisahkan dari telur. Proses
selanjutnya adalah inkubasi pada akuarium. Selama proses ini, dilakukan
pemisahan telur yang mati. Larva hasil penetasan dipelihara dalam wadah yang
sama sampai dilakukan proses transplantasi.
Tahapan persiapan dan pelaksanaan
transplantasi, terdiri dari pengadaan sel donor dari ikan gurame jantan melalui
disosiasi dan setting mikroinjektor dan transplantasi. Pada tahap pengadaan sel
donor, mulanya, ikan donor dibedah terlebih dahulu untuk mengambil gonadnya.
Gonad tersebut dipotong-potong menjadi ukuran sekitar 5 mm di dalam cawan petri
dan dicacah selama 3-5 menit.
Larutan PBS (Phosphate Buffer Saline) yang mengandung tripsin 0.5 % diberikan
sebanyak 1-2 ml ke dalam cacahan gonad. Pencacahan dilakukan kembali selama 3-5
menit sampai keruh. Kemudian, cacahan dipipet teteskan menggunakan mikro pipet
sampai berbuah membentuk suspense sel. Hal ini dimaksudkan untuk membantu
proses disosiasi sel pada jaringannya.
Suspense sel tadi disaring dengan
saringan 60 μm dan dimasukkan ke dalam microtube.
Selanjutnya, disentrifugasi pada kecepatan 12.000 rpm selama 10 menit sampai
sel mengendap. Untuk menjaga sel agar tidak rusak dan terputus dari tripsin,
supernatannya dibuang dan diganti dengan PBS sebanyak 200-400 μl. Suspense sel
dihomogenisasi menggunakan vortex. Penghitungan kepadatan sel pun dilakukan menggunakan
hemositometer.
Di proses setting mikroinjektor dan transplantasi, jarum
mikroinjeksi dipasang pada needle holder.
Kemudian, diisi dengan minyak mineral yang terdapat pada alat micromanipulator yang terpasang dengan
mikroskop jenis Stemi DV4, Zeiss. Sel testicular yang sudah disosiasi diambil
menggunakan mikropipet sebanyak 0.5 μl dan dikeluarkan di atas parafilm.
Jarum injeksi yang terhubung dengan needle holder dilepaskan dari miromanipulator,
kemudian sel yang terdapat di parafilm dimasukkan ke dalam jarum mikroinjeksi.
Metode yang digunakan adalah menyedot secara langsung sel tanpa menimbulkan
gelembung udara dengan jarum
mikroinjeksi yang telah terhubung dengan alat microinjector. Selanjutnya, needle
holder dipasang kembali pada micromanipulator
dan siap untuk menyuntik larva.
Larva ikan nila disiapkan pada tatakan, dikondisikan
miring, kepala sebelah kiri dan ekor di sebelah kanan. Ujung jarum mikroinjeksi
yang terisi sel testicular (sel donor) diatur posisinya agar mengarah ke rongga
peritoneal larva. Larva ikan nila hasil penyuntikan dipelihara sampai umur
sekitar dua bulan di akuarium. Untuk pakannya, diberikan cacing sutra selama 2
minggu secara at satiation. Setelah
itu, selama pemeliharaanya diberikan
pellet F999 protein 38%.
Keberhasilan dari penyuntikan dapat diketahui dengan
mengekstraksi DNA dari ikan resipien (penerima) menggunakan kit isolasi DNA
secara manual. Hasil DNA campuran (resipien dan donor) dapat disimpan pada suhu
-20 derajat Celsius. Metode identifikasi sel donor dalam individu resipien
dapat dilakukan dengan pemberian label ke sel dengan PKH26. Namun, bila warna
PKH26 hilang setelah ikan matang gonad, dilakukan metode PCR.
Di metode PCR, menggunakan primer GH (growth hormone) ikan gurame, yaitu FIGH
(5’-TGTTCTCTGACGGCGTGGTT-3’) dan RIGH (5’-GCAACAAAAACCACCAGAAAGAG-3’) dengan
menggunakan suhu annealing 580C
selama 30 detik dan suhu ekstensi 720C selama 45 detik sebanyak 45
siklus. PCR untuk control internal loading
DNA dilakukan menggunakan primer tiβ-aktin (F: 5’-GTGCCCATCTACGAGGGTTA-3’ R
: 5’-TTTGATGTTCACGCACGATTT-3’).
Untuk mengetahui masuk atau tidaknya DNA gurame (sel
donor) yang telah disuntikkan pada nila (resipien) dapat dilihat dengan elektroforesis
yang menggunakan gel agarosa 1% dan visualisasi DNA menggunakan sinar UV. Hasil
pemeriksaan dengan PCR menggunakan marka molecular spesifik GH-gurame yaitu
memperlihatkan pita DNA sejajar pita control positif DNA ikan gurame (G) dengan
target sekuen 340 bp.
Penulis
Azzahra Khairunnisa
@nizcha0804
Azzahra Khairunnisa
@nizcha0804