Header Ads

Pakan Tepat Pada Salinitas Rendah


Pakan Tepat Pada Salinitas Rendah

                Prospek bisnis di bidang budidaya udang vanname untuk saat ini menggiurkan. Wilayah Indonesia, merupakan potensi untuk pengembangan udang vanname. Namun, di beberapa daerah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua memiliki salinitas yang rendah untuk tambak udang.
                “Para pembudidaya dan perusahaan skala besar umumnya masih memprioritaskan budidaya udang di lokasi yang berbatasan langsung dengan sumber air laut karena kondisi wilayah dan kualitas lingkungan sangat mendukung untuk budidaya udang vaname,” papar Ferdinand Hukama Taqwa, Dosen Program Studi  Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya, Sumatera Selatan. Pemilihan tambak di salinitas rendah,  dapat menjaga daerah pantai sebagai sabuk hijau (green belt) yang menyokong daya dukung lingkungan daerah untuk tetap optimal dan lestari.
                Di beberapa daerah sudah banyak  menerapkan teknologi pakan terutama dengan kadar protein tinggi saat awal masa pendederan baik untuk organisme tawar, payau atau laut. Variasi yang umumnya terjadi adalah saat proses Weaning atau masa pergantian dari pasokan pakan alami ke pakan buatan (pellet udang) berdasarkan karakteristik perkembangan stadia udang, kondisi kualitas air, kualitas benur udang dan kualitas pakan udang yang digunakan.
                Menurut Ferdinand, pemberian pakan yang tepat merupakan factor yang perlu diperhatikan dalam meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup pascalarva udang vannamei selama dalam masa pemeliharaan di media bersalinitas rendah. Namun, penggunaan jenis pakan udang antar pembudidaya udang sangat variatif tergantung kekuatan modal maupun pola usaha (mitra/plasma).

Penelitian “Pakan Tepat pada Salinitas Rendah”
                Penelitian di bidang udang digeluti oleh Ferdinand yang mendapatkan gelar magister di Ilmu Perairan/Lingkungan, Institut Pertanian Bogor.  Dalam penelitiannya untuk pakan pada salinitas rendah, Ferdinand memelihara udang vannamei pada PL25 hingga PL 53 di media bersalinitas 2 ppt dengan kadar kalsium 37 ppm, kadar kalium 51 ppm. Untuk perlakuannya, diberikan beda waktu untuk pergantian pakan buatan. Masa pemeliharaan udang vannamei dengan perlakuan mengganti pakan alami oleh pakan buatan pada hari ke-7, ke-14 dan hari ke-21.  
    Aklimatisasi dilakukan untuk benih dengan pengenceran salinitas menggunakan air tawar yang ditambahkan kalsium 50 ppm dan kalium 25 ppm secara gradual dari stadia PL20 hingga PL24 selama empat hari. Ferdinand menggunakan rancangan percobaan acak lengkap dalam peneltiannya. Perlakuan yang diterapkan yaitu berupa waktu penggantian pakan alami oleh pakan buatan di pada hari  ke-1 (A), ke-7 (B), ke-14 (C), ke-21 (D), dan pakan alami (E) selama masa pemeliharaan dengan perulangan sebanyak 3 kali.
    Ferdinand memberikan pakan udang komersil (kadar air 10,68 %, kadar protein 40,71 % bobot kering) dan pakan alami Chironomus sp. beku (kadar air 89,26 %, kadar protein 62,76 % bobot kering).  Wadah yang digunakan dalam penelitian berjumlah 15 unit akuarium yang berukuran 59 x 29 x 40 cm. Kelima belas akuarium tersebut diberikan air yang bersalinitas 2 ppt dengan padat tebar post larvae  berjumlah 20 individu. Dalam pemberian pakan dilakukan sebanyak  empat kali per hari secara ad libitum (ikan diberi pakan hingga kenyang atau sampai respon makannya berhenti/tidak mau makan lagi).
Pergantian air dilakukan setiap hari pada siang hari sebanyak 30 – 40 % dengan air pengganti yang telah dipersiapkan. Sedangkan penyiponan (penyedotan) sisa-sisa pakan dilakukan satu kali sehari sebelum penggantian air.

Hasil Penelitian
Ferdinand mengungkapkan, hasil penelitiannya menunjukkan pemberian pakan buatan yang diberikan setelah masa aklimatisasi salinitas (pada awal pemeliharaan PL25) mempunyai  performa produksi budidaya lebih baik dibandingkan dengan hanya diberi pakan alami (Chironomus sp beku).  Hal ini diperkuat dengan nilai tingkat konsumsi pakan, retensi protein, retensi energi, laju pertumbuhan harian, dan efisiensi pakan yang tertinggi.
Kebutuhan nutrisi udang dapat dipenuhi bila udang vannamei diberi perlakuan  sesuai metode penelitian Ferdinand. Adapun kelebihan penelitian, metode ini cukup praktis karena tidak perlu menyiapkan pakan alami lagi. Serta mudah diaplikasikan dan bisa meningkatkan pasokan energi udang  yang mencukupi untuk pertumbuhan di media salinitas rendah.
Ferdinand memaparkan bahwa Indikator keberhasilan produksi (panen) sebetulnya lebih ditekankan pada tingkat teknologi yang akan diaplikasikan apakah tradisional, intensif, super intensif dan sebagainya, karena panen yang maksimal merupakan interaksi dari kelangsungan hidup (dari padat tebar yang diaplikasikan) dan biomassa.
Untuk penelitiannya, Ferdinand mengakui adanya kekurangan yaitu udang akan stress jika waktu penggantian kebiasaan makan tidak tepat. Disusul juga dengan penurunan sifat fisika dan kimia air dari kisaran standar. Selain itu, pemberian pakan buatan yang berlebihan dan tidak habis dimakan oleh udang, mengakibatkan kadar ammonia akan naik dan air makin keruh.
Kekurangan penelitiannya, dapat teratasi dengan penerapan best management practices aquaculture. Apabila manajemen pakan dilakukan tepat, teratur dan tidak berlebihan maka kondisi fisika kimia air budidaya tetap optimal untuk pertumbuhan udang vaname yang maksimal. Penggunaan sarana pendukung budidaya (kincir air dan sebagainya)  dan pola manajemen kualitas air yang tepat juga sangat mutlak diperhatikan.
           “Secara ekonomis, apabila formulasi pakan dikembangkan dengan kesesuaian komoditi dan lingkungan budidaya dan berdasar kearifan lokal, maka biaya produksi dapat ditekan seminimal mungkin. Tentunya ini memerlukan pengkajian yang lebih intensif sehingga formulasi pakan yang dikembangkan secara ekonomis menguntungkan, mudah dibuat dan ramah lingkungan.” ucap Ferdinand.
                Penelitian yang dilakukan oleh Ferdinand, juga dilakukan oleh beberapa peneliti dengan teknik-teknik terbaru yang mengkhususkan pada aspek nutrisi udang vaname dengan berbagai inovasi yang dilakukan, namun informasi yang diperoleh sebagian besar dari jurnal penelitian baik dalam negeri maupun luar negeri. Aplikasi skala produksi tentang kebutuhan nutrisi di media bersalinitas rendah untuk budidaya udang vaname masih sangat terbatas.
Di tahun 2010, Ferdinand memperoleh salah satu pemakalah terbaik dalam acara Simposium Nasional Bioteknologi Akuakultur III  yang diselenggarakan oleh Departemen Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor. Saat ini, Ferdinand juga sedang dalam pengajuan HKI.


Penulis 
Azzahra Khairunnisa
@nizcha0804


Diberdayakan oleh Blogger.