Nasib Nelayan Profesi Turun Temurun
Sumber : www.saputrairfan.files.wordpress.com.
Data Koordinator Program Koalisi Rakyat untuk keadilan Perikanan (Kiara) menyebutkan, jumlah nelayan miskin saat ini 7,87 juta orang. Sekitar 25,14 persen dari penduduk miskin nasional. Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) diminta untuk membuka matanya. Apa yang dicanangkan oleh pemerintah melalui program-programnya, jangan menjadi pepesan kosong.
Nasib nelayan yang semakin terpuruk dirasakan oleh Sarkawi, nelayan asal Desa Sigar penjalin, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat. Sekitar 7 kelompok nelayan, masing-masing kelompok ada sekitar 15 orang. Kondisinya sangat memprihatinkan, tidak ada sentuhan sama sekali baik dari pemerintah daerah maupun dari pemerintah pusat.
Sumber : www.stat.ks.kidsklik.com
Meski harus bersekolah, pria kelahiran 27 Desember 1986 mengaku tidak pernah meninggalkan pekerjaannya. Bahkan, dia harus rela meluangkan waktu belajarnya di tengah laut. Bagi dia, hal seperti itu sudah merupakan hal yang biasa. Pagi jadi malam, malam jadi pagi. “Waktu saya sekolah SMA, malam saya melaut, pulang subuh. Dan tidur sampe jam 11, jam 12 saya berangkat sekolah terus menerus setiap hari sampai lulus,” beber pria yang menjadi tulang punggung keluarga ini.
Sumber : www.medanmagazine.com
Semangatnya sangat luar biasa, meski ombak menerjang kapal dan membelahnya di tengah lautan, tidak menjadikan dia mundur atau berhenti menjadi nelayan. Pengalaman itu kata dia menjadi semangat untuk menghidupi empat orang adik-adiknya yang masih duduk di bangku SD, SMP dan SMA.
“Padahal penghasilan saya tidak terlalu besar, saat cuaca bagus, penghasilan bisa sampai Rp 300.000 dari hasil tangkapan ikan saya, itupun harus dibagi dengan teman-teman lain. Namun, itu tidak terjadi setiap hari. Sering pula saya hanya bisa membawa pulang Rp 5.000, padahal untuk makan sekeluarga setidaknya butuh Rp 50.000 per hari,” katanya, jika tidak melaut maka mencari pekerjaan lain seperti kuli bangunan, buruh panggul atau kerjaan lainnya.
Mengenai hal ini, pria yang juga menjadi Ketua Perkumpulan Nelayan INDUNG (Ikatan Nelayan Dayan Gunung) menyesalkan kurang perhatiannya pemerintah terhadap nasib nelayan di wilayah kami, padahal kami sangat membutuhkan bantuan-bantuan seperti itu. Tapi harapan tinggal harapan, karena dari saya kecil tidak pernah ada bantuan kepada kami sebagai nelayan,” bebernya.
Sarkawi bahkan sedikit bingung dengan sikap
pemerintah yang justru gampang memberikan bantuan kepada orang-orang yang bukan
nelayan. Ini tentu membuat kekecewaan bagi teman-teman nelayan. Untuk kapal
pun, katanya nelayan di daerahnya tidak ada yang punya kapal yang bisa mencapai
tengah laut. Yang ada hanya kapal-kapal kecil yang jarak tempuhnya tentu
terbatas. “Kalau dilihat sangat menyayat hati. Belum lagi perlengkapan yang
sangat minim, pemerintah harus segera memperhatikan nasib kami,” ungkapnya.
Karena alat tangkap yang sangat minim, jenis ikan
yang ditangkap pun tidak begitu banyak. Bahkan, hanya ikan-ikan kecil seperti
ikan layar, ikan teri. Kalau ada musimnya, ada juga yang dapat ikan-ikan besar.
Sekali lagi, kata dia karena peralatan yang minim, jarang sekali dapat ikan
yang besar-besar. “Kalau ikan Tuna harus ada peralatan khusus, sementara di
sini perlengkapan kami sangat minim,” tegasnya.
Sumber : www.deviantart.net
Sebagai nelayan yang kurang mendapat perhatian,
Sarkawi berharap ada perhatian khusus dari pemerintah daerah maupun pusat untuk
kehidupan yang layak. Tidak dalam bentuk dana, ada alternative lain, seperti
barang atau peralatan untuk melaut. “Jika ada dan kapal juga tidak diberikan,
ya ada bantuan dalam bentuk pembinaan, agar kami bisa mendirikan koperasi yang
tentunya untuk membantu para nelayan. Kami nelayan ini juga kan rakyat Indonesia,
kenapa kami selalu di marginalkan, mudah-mudahan pemerintah bisa terusik
hatinya untuk bisa membantu kami,” tegasnya seraya menyatakan, kurangnya
informasi yang menyebabkan ketidaktahuan dari para nelayan itu sendiri akan
adanya bantuan-bantuan pemerintah.
Sarkawi merasa adanya PPNSI yang mau memberikan
informasi menjadi alat penolong sampai saat ini. “Kita meminta kepada PPNSI
untuk terus memperjuangkan nasib-nasib nelayan yang ada di wilayah kami
khususnya, dan nelayan Indonesia secara umum,” tandasnya.
Sumber : ww.static.panoramio.com
Penulis : Athaya
Editor : Dhawilani
Sumber : Maritime Magazine Edisi
21/Tahun II/Juni 2012



