Header Ads

Global Warming

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
      Perkembangan teknologi secara global tidak hanya menguntungkan manusia, tetapi juga merugikan manusia. Para pencetus teknologi, mampu membuat banyak kemudahan yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Mereka bercermin dari keadaan manusia di zaman purba yang seluruhnya menggunakan tenaga manusia selain untuk pemenuhan kebutuhan, juga untuk penunjang kehidupan lainnya.
Penggunaan teknologi saat ini dapat menyebabkan kenaikan suhu, atmosfer, juga keadaan bumi. Peristiwa ini disebut dengan pemanasan global (global warming), yang secara perlahan tidak disadari manusia akan membawa malapetaka di kemudian hari. Kenyataan ini bersumber dari kebiasaan manusia menggunakan air conditioner (AC), freezer yang mengandung CFC, efek rumah kaca, efek umpan balik, variasi matahari, serta peternakan (www.wikipedia.org).
Sebagian dari manusia menyadari akan adanya masalah-masalah yang akan dihadapi oleh mereka dari pemanasan global. Namun di antara mereka, ada juga yang tidak peduli sehingga masih menggunakan teknologi yang menjadi penyebab-penyebabnya. Di beberapa Negara di dunia, sudah terjadi pembahasan yang menarik dari permasalahan ini. Untuk itulah, penulis mengambil “Pemanasan Global (Global Warming)” sebagai judul untuk tugas Mata Kuliah Meteorologi.

1.2 Tujuan
      Tujuannya untuk:
1. Memenuhi tugas Mata Kuliah Meteorologi
2. Mengetahui definisi pemanasan global (global warming)
3. Mengetahui penyebab dan dampak dari pemanasan global (global warming)
4. Membahas pendapat dan opini dari public dalam menyelesaikan masalah pemanasan global (global warming).


II. PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pemanasan Global
      Dikutip dari www.wikipedia.org , pemanasan global adalah adanya proses peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa, "sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia"[1] melalui efek rumah kaca. Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara G8. Akan tetapi, masih terdapat beberapa ilmuwan yang tidak setuju dengan beberapa kesimpulan yang dikemukakan IPCC tersebut.

      Model iklim yang dijadikan acuan oleh projek IPCC menunjukkan suhu permukaan global akan meningkat 1.1 hingga 6.4 °C (2.0 hingga 11.5 °F) antara tahun 1990 dan 2100.[1] Perbedaan angka perkiraan itu disebabkan oleh penggunaan skenario-skenario berbeda mengenai emisi gas-gas rumah kaca di masa mendatang, serta model-model sensitivitas iklim yang berbeda. Walaupun sebagian besar penelitian terfokus pada periode hingga 2100, pemanasan dan kenaikan muka air laut diperkirakan akan terus berlanjut selama lebih dari seribu tahun walaupun tingkat emisi gas rumah kaca telah stabil.[1] Ini mencerminkan besarnya kapasitas panas dari lautan. (www.wikipedia.org)
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan yang lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim,[2] serta perubahan jumlah dan pola presipitasi. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan. (www.wikipedia.org)

      Menurut blogspot, www.independen69.wordpress.com , pemanasan global adalah kejadian meningkatnya temperatur rata-rata atmosfer, laut dan daratan Bumi. Pemanasan Global disebabkan diantaranya oleh “Greenhouse Effect” atau yang kita kenal dengan EFEK RUMAH KACA. Efek rumah kaca disebabkan karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.

      Istilah efek rumah kaca, diambil dari cara tanam yang digunakan para petani di daerah iklim sedang (negara yang memiliki empat musim). Para petani biasa menanam sayuran atau bunga di dalam rumah kaca untuk menjaga suhu ruangan tetap hangat. Kenapa menggunakan kaca/bahan yang bening? Karena sifat materinya yang dapat tertembus sinar matahari. Dari sinar yang masuk tersebut, akan dipantulkan kembali oleh benda/permukaan dalam rumah kaca, ketika dipantulkan sinar itu berubah menjadi energi panas yang berupa sinar inframerah, selanjutnya energi panas tersebut terperangkap dalam rumah kaca. Demikian pula halnya salah satu fungsi atmosfer bumi kita seperti rumah kaca tersebut. (www.independen69.wordpress.com)

      Dikutip dari www.geo.ugm.ac.id , pemanasan global (global warming) pada dasarnya merupakan fenomena peningkatan temperatur global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi. Berbagai literatur menunjukkan kenaikan temperatur global – termasuk Indonesia – yang terjadi pada kisaran 1,5–40 Celcius pada akhir abad 21.

2.2 Penyebab Pemanasan Global
      Pemanasan global mempunyai banyak versi mengenai penyebab-penyebabnya, dikutip dari www.wikipedia.org, penyebab pemanasan global adalah efek rumah kaca, efek umpan balik, variasi Matahari, dan peternakan (konsumsi daging).
• Efek rumah kaca, Efek rumah kaca ini sangat dibutuhkan oleh segala makhluk hidup yang ada di bumi, karena tanpanya, planet ini akan menjadi sangat dingin. Dengan temperatur rata-rata sebesar 15 °C (59 °F), bumi sebenarnya telah lebih panas 33 °C (59 °F)dari temperaturnya semula, jika tidak ada efek rumah kaca suhu bumi hanya -18 °C sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi. Akan tetapi sebaliknya, apabila gas-gas tersebut telah berlebihan di atmosfer, akan mengakibatkan pemanasan global.
• Anasir penyebab pemanasan global juga dipengaruhi oleh berbagai proses umpan balik yang dihasilkannya. Salah satu umpan balik penting adalah hilangnya kemampuan memantulkan cahaya (albedo) oleh es. Ketika temperatur global meningkat, es yang berada di dekat kutub mencair dengan kecepatan yang terus meningkat. Bersamaan dengan melelehnya es tersebut, daratan atau air dibawahnya akan terbuka. Baik daratan maupun air memiliki kemampuan memantulkan cahaya lebih sedikit bila dibandingkan dengan es, dan akibatnya akan menyerap lebih banyak radiasi Matahari. Hal ini akan menambah pemanasan dan menimbulkan lebih banyak lagi es yang mencair, menjadi suatu siklus yang berkelanjutan.
• Variasi matahari, Terdapat hipotesa yang menyatakan bahwa variasi dari Matahari, dengan kemungkinan diperkuat oleh umpan balik dari awan, dapat memberi kontribusi dalam pemanasan saat ini. Perbedaan antara mekanisme ini dengan pemanasan akibat efek rumah kaca adalah meningkatnya aktivitas Matahari akan memanaskan stratosfer sebaliknya efek rumah kaca akan mendinginkan stratosfer. Pendinginan stratosfer bagian bawah paling tidak telah diamati sejak tahun 1960,yang tidak akan terjadi bila aktivitas Matahari menjadi kontributor utama pemanasan saat ini. (Penipisan lapisan ozon juga dapat memberikan efek pendinginan tersebut tetapi penipisan tersebut terjadi mulai akhir tahun 1970-an.) Fenomena variasi Matahari dikombinasikan dengan aktivitas gunung berapi mungkin telah memberikan efek pemanasan dari masa pra-industri hingga tahun 1950, serta efek pendinginan sejak tahun 1950.
• Peternakan, juga telah menjadi penyebab utama dari kerusakan tanah dan polusi air. Saat ini peternakan menggunakan 30 persen dari permukaan tanah di Bumi, dan bahkan lebih banyak lahan serta air yang digunakan untuk menanam makanan ternak. Menurut laporan Bapak Steinfeld, pengarang senior dari Organisasi Pangan dan Pertanian, Dampak Buruk yang Lama dari Peternakan - Isu dan Pilihan Lingkungan (Livestock's Long Shadow-Environmental Issues and Options), peternakan adalah penggerak utama dari penebangan hutan kira-kira 70 persen dari bekas hutan di Amazon telah dialih-fungsikan menjadi ladang ternak. Selain itu, ladang pakan ternak telah menurunkan mutu tanah. Kira-kira 20 persen dari padang rumput turun mutunya karena pemeliharaan ternak yang berlebihan, pemadatan, dan erosi. Peternakan juga bertanggung jawab atas konsumsi dan polusi air yang sangat banyak. Di Amerika Serikat sendiri, trilyunan galon air irigasi digunakan untuk menanam pakan ternak setiap tahunnya. Sekitar 85 persen dari sumber air bersih di Amerika Serikat digunakan untuk itu. Ternak juga menimbulkan limbah biologi berlebihan bagi ekosistem.
   
      Dikutip dari (www.indoforum.org), Indonesia didaulat sebagai negara keempat pembuang emisi gas rumah kaca (greenhouse gas/ GHG) di dunia. Namun jika berdasar indikator konversi lahan dan perusakan hutan, posisi Indonesia sebagai ”aktor”penyebab pemanasan global berada di posisi ketiga. Kepala Ekonomi dan Penasihat Pemerintah Inggris untuk Urusan Efek Ekonomi Perubahan Iklim dan Pembangunan Sir Nicholas Stern mengatakan, setiap tahunnya aktivitas dan pemakaian energi, pertanian dan limbah di Indonesia membuang emisi 451 juta ton karbon dioksida atau setara (MtCO2e). Jumlah itu belum termasuk akibat konversi lahan dan perusakan hutan yang diperkirakan mengeluarkan 2,563 MtCO2e.”Indonesia masih terbesar sebagai emitters gas rumah kaca,” kata dia. Sementara dalam paparan Stern, negara pembuang emisi gas rumah kaca pertama diduduki Amerika Serikat (AS), disusul China dan Uni Eropa yang merangkum 25 negara. Sementara di bawah Indonesia, ada Brasil, Rusia, dan terakhir India.

2.3 Dampak dari Pemanasan Global
      Berdasarkan www.wikipedia.org, dampak dari pemanasan global:
• Iklim mulai tidak stabil, Para ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut. Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari akan cenderung untuk meningkat.
• Peningkatan Permukaan Laut, Ketika atmosfer menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10 - 25 cm (4 - 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi peningkatan lebih lanjut 9 - 88 cm (4 - 35 inchi) pada abad ke-21.
• Suhu global cenderung meningkat, bagian Selatan Kanada, sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam. Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang lebih hebat.
• Gangguan ekologis, Hewan dan tumbuhan menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati. Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub mungkin juga akan musnah.
• Dampak sosial dan politik, Perubahan cuaca dan lautan dapat mengakibatkan munculnya penyakit-penyakit yang berhubungan dengan panas (heat stroke) dan kematian. Temperatur yang panas juga dapat menyebabkan gagal panen sehingga akan muncul kelaparan dan malnutrisi. Perubahan cuaca yang ekstrem dan peningkatan permukaan air laut akibat mencairnya es di kutub utara dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang berhubungan dengan bencana alam (banjir, badai dan kebakaran) dan kematian akibat trauma. Timbulnya bencana alam biasanya disertai dengan perpindahan penduduk ke tempat-tempat pengungsian dimana sering muncul penyakit, seperti: diare, malnutrisi, defisiensi mikronutrien, trauma psikologis, penyakit kulit, dan lain-lain.

      Kutipan dari www.kompas.com, emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir. Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961. Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 2,7 derajat Fahrenheit (setara 1,5 derajat Celcius). Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah. Meski negara-negara miskin yang akan merasakan dampak sangat buruk, perubahan iklim juga melanda negara maju. Pada 2020, 75 juta hingga 250 juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber air, penduduk kota-kota besar di Asia akan berisiko terlanda banjir dan rob. Kondisi cuaca ektrim akan menjadi peristiwa rutin. Badai tropis akan lebih sering terjadi dan semakin besar intensitasnya. Gelombang panas dan hujan lebat akan melanda area yang lebih luas. Risiko terjadinya kebakaran hutan dan penyebaran penyakit meningkat. Sementara itu, kekeringan akan menurunkan produktivitas lahan dan kualitas air. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih luas, mengasinkan air tawar, dan menggerus kawasan pesisir.

      Dari hasil laporan WHO (www.sehatgroup.web.id) dikatakan peningkatan suhu permukaan bumi juga diikuti oleh peningkatan permukaan laut. Yang mengakibatkan peningkatan risiko terjadinya banjir. Peningkatan suhu permukaan bumi juga mempengaruhi curah hujan. Peningkatan curah hujan juga meningkatkan kemungkinan terjadinya banjir.

      Dalam terjadinya penyakit, pemanasan global juga mempengaruhi perkembangan mikroba. Salah satu contohnya dalam daerah sekitar laut, dikatakan peningkatan suhu permukaan laut menyebabkan peningkatan populasi dari fitoplankton, makanan bagi zooplankton. Ternyata bakteri colera menempel pada zooplankton. Dengan peningkatan makanan bagi zooplankton maka populasi zooplankton akan meningkat, dan akibatnya meningkatkan populasi dan risiko terjadinya penyakit kolera. Interaksi antara hewan perantara penyakit dan manusia pun meningkat. Dengan adanya banjir maka sampah-sampah atau limbah terbawa ke lingkungan manusia, hewan-hewan pengerat pun kehilangan tempat tinggal dan merekan mencari tempat aman yaitu ke pemukiman manusia, hal ini meningkatkan kemungkinan kontak antara manusia dengan hewan pengerat sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit yang diperantarai hewan pengerat

2.4 Opini Publik mengenai Pemanasan Global dan Solusi dari Pemanasan Global
      Dikutip dari www.wikipedia.org, Para ilmuwan yang mempertanyakan pemanasan global cenderung menunjukkan tiga perbedaan yang masih dipertanyakan antara prediksi model pemanasan global dengan perilaku sebenarnya yang terjadi pada iklim. Pertama, pemanasan cenderung berhenti selama tiga dekade pada pertengahan abad ke-20; bahkan ada masa pendinginan sebelum naik kembali pada tahun 1970-an. Kedua, jumlah total pemanasan selama abad ke-20 hanya separuh dari yang diprediksi oleh model. Ketiga, troposfer, lapisan atmosfer terendah, tidak memanas secepat prediksi model. Akan tetapi, pendukung adanya pemanasan global yakin dapat menjawab dua dari tiga pertanyaan tersebut.

      Keadaan pemanasan global sejak 1900 yang ternyata tidak seperti yang diprediksi disebabkan penyerapan panas secara besar oleh lautan. Para ilmuan telah lama memprediksi hal ini tetapi tidak memiliki cukup data untuk membuktikannya. Pada tahun 2000, U.S. National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) memberikan hasil analisa baru tentang temperatur air yang diukur oleh para pengamat di seluruh dunia selama 50 tahun terakhir. Hasil pengukuran tersebut memperlihatkan adanya kecenderungan pemanasan: temperatur laut dunia pada tahun 1998 lebih tinggi 0,2 derajat Celsius (0,3 derajat Fahrenheit) daripada temperatur rata-rata 50 tahun terakhir, ada sedikit perubahan tetapi cukup berarti. Pertanyaan ketiga masih membingungkan. Satelit mendeteksi lebih sedikit pemanasan di troposfer dibandingkan prediksi model. Menurut beberapa kritikus, pembacaan atmosfer tersebut benar, sedangkan pengukuran atmosfer dari permukaan Bumi tidak dapat dipercaya. Pada bulan Januari 2000, sebuah panel yang ditunjuk oleh National Academy of Sciences untuk membahas masalah ini mengakui bahwa pemanasan permukaan Bumi tidak dapat diragukan lagi. Akan tetapi, pengukuran troposfer yang lebih rendah dari prediksi model tidak dapat dijelaskan secara jelas.

      Sesuai dengan www.geo.ugm.ac.id , dinamika pembangunan dan lingkungan strategis yang terus berubah, maka dirasakan adanya kebutuhan untuk mengkajiulang (review) materi pengaturan RTRWN (PP 47/1997) agar senantiasa dapat merespons isu-isu dan tuntutan pengembangan wilayah nasional ke depan. Oleh karenanya, pada saat ini Pemerintah tengah mengkajiulang RTRWN yang diselenggarakan dengan memperhatikan perubahan lingkungan strategis ataupun paradigma baru sebagai berikut :
• globalisasi ekonomi dan implikasinya,
• otonomi daerah dan implikasinya,
• penanganan kawasan perbatasan antar negara dan sinkronisasinya,
• pengembangan kemaritiman/sumber daya kelautan,
• pengembangan kawasan tertinggal untuk pengentasan kemiskinan dan krisis ekonomi,
• daur ulang hidrologi,
• penanganan land subsidence,
• pemanfaatan jalur ALKI untuk prosperity dan security, serta
• pemanasan global dan berbagai dampaknya.

      Dalam kerangka kebijakan penataan ruang, maka RTRWN merupakan salah satu instrumen kebijakan yang dapat dimanfaatkan untuk dampak pemanasan global terhadap kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil. Intervensi kebijakan penataan ruang diatas pada dasarnya ditempuh untuk memenuhi tujuan-tujuan berikut :
• Mewujudkan pembangunan berkelanjutan pada kawasan pesisir, termasuk kota-kota pantai dengan segenap penghuni dan kelengkapannya (prasarana dan sarana) sehingga fungsi-fungsi kawasan dan kota sebagai sumber pangan (source of nourishment) dapat tetap berlangsung.
• Mengurangi kerentanan (vulnerability) dari kawasan pesisir dan para pemukimnya (inhabitants) dari ancaman kenaikan muka air laut, banjir, abrasi, dan ancaman alam (natural hazards) lainnya.
• Mempertahankan berlangsungnya proses ekologis esensial sebagai sistem pendukung kehidupan dan keanekaragaman hayati pada wilayah pesisir agar tetap lestari yang dicapai melalui keterpaduan pengelolaan sumber daya alam dari hulu hingga ke hilir (integrated coastal zone management).
• Untuk mendukung tercapainya upaya revitalisasi dan operasionalisasi rencana tata ruang, maka diperlukan dukungan-dukungan, seperti : (a) penyiapan Pedoman dan Norma, Standar, Prosedur dan Manual (NSPM) untuk percepatan desentralisasi bidang penataan ruang ke daerah - khususnya untuk penataan ruang dan pengelolaan sumber daya kawasan pesisir/tepi air; (b) peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia serta pemantapan format dan mekanisme kelembagaan penataan ruang, (c) sosialisasi produk-produk penataan ruang kepada masyarakat melalui public awareness campaig, (d) penyiapan dukungan sistem informasi dan database pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil yang memadai, serta (e) penyiapan peta-peta yang dapat digunakan sebagai alat mewujudkan keterpaduan pengelolaan kawasan pesisir dan pulau-kecil sekaligus menghindari terjadinya konflik lintas batas.
• Selanjutnya, untuk dapat mengelola pembangunan kawasan pesisir secara efisien dan efektif, diperlukan strategi pendayagunaan penataan ruang yang senada dengan semangat otonomi daerah yang disusun dengan memperhatikan faktor-faktor berikut :
• Keterpaduan yang bersifat lintas sektoral dan lintas wilayah dalam konteks pengembangan kawasan pesisir sehingga tercipta konsistensi pengelolaan pembangunan sektor dan wilayah terhadap rencana tata ruang kawasan pesisir.
• Pendekatan bottom-up atau mengedepankan peran masyarakat (participatory planning process) dalam pelaksanaan pembangunan kawasan pesisir yang transparan dan accountable agar lebih akomodatif terhadap berbagai masukan dan aspirasi seluruh stakeholders dalam pelaksanaan pembangunan.
• Kerjasama antar wilayah (antar propinsi, kabupaten maupun kota-kota pantai, antara kawasan perkotaan dengan perdesaan, serta antara kawasan hulu dan hilir) sehingga tercipta sinergi pembangunan kawasan pesisir dengan memperhatikan inisiatif, potensi dan keunggulan lokal, sekaligus reduksi potensi konflik lintas wilayah
• Penegakan hukum yang konsisten dan konsekuen – baik PP, Keppres, maupun Perda - untuk menghindari kepentingan sepihak dan untuk terlaksananya role sharing yang ‘seimbang’ antar unsur-unsur stakeholders.
Adapun pendapat yang dikutip dari www.globalwarmingsolution.wordpress.com
• Mr. Achim Steiner - United Nation’s Under Secretary General & UN Environment Programme Executive Director , “Sungguh ada banyak negara pulau yang sudah hancur sekarang, dihukum, lenyap. Karena itu tidak ada pertanyaan bahwa kita harus bertindak. Dan itu hanya awal dari dampak nyata dari perubahan iklim. Bagian yang tak terlihat, hal-hal yang mungkin belum kita pahami yang terjadi di sekitar kita juga sedang berjalan.”
• President Tong of the Island Nation of Kiribati: “Terdapat komunitas yang seluruhnya perlu direlokasikan, desa-desa yang telah ada di sana selama lebih dari satu dekade mungkin satu abad dan sekarang mereka harus dipindahkan, dan tempat di mana mereka tinggal selama beberapa dekade sudah tiada lagi. Tempatnya telah terkikis.”
• Paul Tobasi – Government Representative of the Carteret Islands : “Bukan kehendak mereka untuk pergi tetapi karena situasi; Hal itu memaksa mereka pindah.”
• President Tong of the Island Nation of Kiribati: “Kita mungkin berada pada titik tanpa balik, pulau kecil kami yang rendah akan tenggelam. Ini adalah isu kelangsungan hidup manusia. Jika komunitas dunia, berbagai negara tidak menyingkirkan kebiasaan Karbon, akan ada negara lain yang akan menyusul.”
• Supreme Master Ching Hai: “Beralihlah kepada gaya hidup yang lebih baik yaitu menghormati segala bentuk kehidupan, lalu kita akan peroleh kehidupan dan hidup kita bisa bertahan. Dan alam akan memulihkan keseimbangan dan memperbaiki semua kerusakan. Saya harap dapat segera melihat hari itu, dalam hidup saya ini. Semakin banyak orang vegetarian bergabung, makin besar peluang yg kita miliki untuk menyelamatkan Bumi.”

      Penyelesaian dari pemanasan global (www.kontektekim.blogspot.com), harus diatasi agar temperatur Bumi tidak terus meningkat. Cara mengatasinya adalah dengan cara mencegah karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen karbon-nya di tempat lain disebut juga carbon sequestration (menghilangkan karbon).

      Cara yang kedua adalah dengan mengurangi produksi gas rumah kaca. Cara menghilangkan karbon dioksida adalah dengan menyuntikkan (menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak bumi keluar ke permukaan. Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Karbon dioksida dapat disimpan di bawah tanah pada kedalaman tertentu. Namun dikhawatirkan hal ini akan menimbulkan masalah di kemudian hari karena penimbunan karbon dioksida di bawah tanah. Jadi, cara terbaik untuk mengatasi pemanasan global adalah dengan mengurangi produksi gas rumah kaca. Emisi gas rumah kaca ini dapat dikurangi misalnya saja dengan menggunakan kendaraan ramah lingkungan dan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Untuk menggantikan bahan bakar fosil dapat digunakan energi nuklir sebagai sumber energi. Teknologi nuklir ini telah dikembangkan di beberapa negara maju. Energi nuklir ini cukup berpotensi dan sama sekali tidak menghasilkan gas karbon dioksida sehingga tidak menyebabkan pemanasan global. Sementara negara-negara berkembang seperti Indonesia harus mengusahakan agar hutan dan pepohonannya tetap lestari sehingga dapat membantu mengurangi gas karbon dioksida karena pohon dapat mengambil karbon dioksida dari udara yang kemudian digunakannya untuk fotosintesis. Pemerintah dapat mecanangkan program penanaman pohon dan pelestarian pohon. Dengan adanya kesepakatan antara semua negara maka pasti pemanasan global dapat diatasi atau dikurangi (www.kontektekim.blogspot.com).

      Kesadaran dunia akan perlunya kolaborasi menghadapi peningkatan emisi karbon diwujudkan dalam Conference on Parties ke-13 United Nations Framework Convention on Climate ( COP ke-13 UNFCC ) tanggal 13 – 14 Desember 2007 di Denpasar, Bali. Indonesia turut berpartisipasi dalam konferensi ini.

      Keputusan-keputusan yang seharusnya ditetapkan dalam konferensi tersebut antara lain;
1. Menjaga kelestarian hutan, Untuk menetralisasi karbon-karbon yang ada di udara, hutan merupakan
    solusi terbaik. Pemeliharaan kelestarian hutan bukan hanya dilakukan oleh negara-negara berkembang  
    yang masih mempunyai hutan saja, melainkan negara-negara maju yang dalam hal ini merupakan
    penyumbang emisi karbon terbesar harus turut mengambil bagian walaupun hutan mereka sudah sedikit
    atau bahkan habis. Negara-negara maju dapat mengambil bagian dengan cara bersama-sama negara
    berkembang mengumpul dana bagi pemeliharaan, turut serta melakukan riset untuk mempercepat proses
    reboisasi, dan mengirim tenaga-tenaga ahli untuk terjun langsung ke daerah yang hutannya mengalami
    kerusakan.
2. Berupaya untuk mencari alternative bahan bakar lain yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
3. Menyosialisasikan tatacara penggunaan kendaraan bermotor (khususnya mobil) dengan seksama.
    Kalau tidak perlu sekali tidak perlu memakai kendaraan yang membuang banyak buangan energi tersebut.
    Sekilas solusi ini berdampak tidak menguntungkan bagi negara-negara maju, khususnya negara industri
    kendaraan bermotor (khususnya mobil), namun keputusan ini agaknya sudah tepat, negara-negara maju
    justru harus lebih berinovasi untuk membuat mobil yang ramah lingkungan.
4. Menyosialisasikan pada pabrik-pabrik untuk menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan
    dalam menghasilkan barang jadi. Masyarakat pun diminta untuk memilih dengan seksama barang-barang
    terutama disarankan untuk membandingkan dan memilih produk yang paling kecil resikonya terhadap
    lingkungan.

III. KESIMPULAN

3.1 Kesimpulan
      Pemanasan global (global warming) terjadi dari perkembangan teknologi yang menyebabkan kenaikan suhu, atmosfer, dan keadaan bumi. Awalnya, manusia menganggap bahwa perkembangan teknologi bersifat menguntungkan. Namun, setelah dilakukan riset oleh beberapa ahli, akhirnya disadari aktivitas manusia seperti penggunaan parfum, air conditioner, freezer, serta lainnya yang berpotensial akan membahayakan seluruh umat manusia di bumi. Dampak yang terjadi ialah iklim yang tidak stabil, kenaikan permukaan laut, suhu meningkat secara global, terganggunya ekologis makhluk hidup, dan permasalahan yang terjadi antar manusia baik secara social maupun politik.

3.2 Saran
      Dalam pembuatan teknologi sebaiknya dipertimbangkan keuntungan dan kerugian tidak hanya untuk manusia tetapi juga untuk seluruh komponen di bumi. Selain itu, untuk penyelesaian masalah dari pemanasan global, dilakukan secara ilmiah dan sistematis, sehingga tidak menimbulkan opini-opini yang pro dan kontra.

DAFTAR PUSTAKA
www.andaka.com
www.wikipedia.org
www. christianto-kotakxxxxx.blogspot.com
www.effectofglobalwarming.com
www.endangered.ning.com
www.garishijau.indonetwork.co.id
www.geo.ugm.ac.id
www.globalwarmingsolution.wordpress.com
www.independen69.wordpress.com
www.independen69.wordpress.com
www.kompas.com,
www.kontektekim.blogspot.com
www.kuuvikriver.info
www.pemanasanglobal.net
www.sehatgroup.web.id
Diberdayakan oleh Blogger.