Header Ads

Inventarisasi Ekosistem Laut Tropis Di Pulau Pari, DKI Jakarta

Abstrak
      Praktikum lapang ekologi laut tropis perlu dilakukan untuk mengetahui secara langsung jenis-jenis individu dan interaksi yang terjadi di lamun, terumbu karang, dan mangrove di Kepulauan Seribu (Pulau Pari dan Pulau Burung). Selain itu, mengetahui baik buruknya suatu lingkungan tempat tinggal organisme. Tujuan dari praktikum adalah untuk mengamati ekologi laut tropis di Kepulauan Seribu melalui pengambilan data lamun, terumbu karang, dan mangrove, serta untuk mengetahui karakteristik ekologi laut tropis, dan untuk memahami pengolahan data lamun, terumbu karang, dan mangrove.

      Metode pengambilan data lamun di Pulau Pari menggunakan bentangan tali 50 m ke laut yang tegak lurus dengan pantai yang memiliki jarak interval 10 m, di setiap interval dilakukan dua kali ulangan (kanan dan kiri tali). Pengambilan data terumbu karang dengan metode Line Intercept Transek (LIT). Sedangkan pengambilan data mangrove dengan membentuk stasiun dengan ukuran berbeda pada pohon, anakan, dan semai dengan tali rafia. Praktikum lapang di Kepulauan Seribu mengambil lokasi untuk data lamun di Pulau Pari, data terumbu karang dan ikan karang di Selatan Pulau Pari, dan data mangrove di Pulau Burung. Dari hasil pengamtan didapatkan hanya pohon mangrove, dan biota yang mendominasi ialah gastropoda. Jenis lamun yang ditemukan hanya Cymodocea. Biota yang didapatkan paling dominan yaitu Arcaster sp (88,89%), Bivalvia (5,56%), Annelida (5,5,6%), Gastropoda (68%), Arcaster (24%) dan Annelida (8%). Pengambilan data terumbu karang dan ikan karang dilakukan di selatan Pulau Pari dengan dua metode yaitu transek kuadrat dan LIT. Data ikang karang berbarengan dengan data terumbu karang. Biotanya ialah Diadematidae (26,32%), Acanthuridae (22,8%), dan Holocentridae (7%), Pomacentridae (43,85%).

Pendahuluan
      Ekologi laut tropis mencakup berbagai macam ekosistem yang berada pada daerah tropis. Aspek yang ditelaah mengenai lamun, terumbu karang, dan mangrove. Interaksi yang terpenting dari ketiga ekosistem tersebut yakni fisik, bahan organic terlarut, bahan organic partikel, migrasi fauna, dan dampak manusia. Struktur dan sifat fisik ketiga ekosistem tersebut saling mendukung. Apabila, ekosistem tersebut terganggu, maka akan menyebabkan ekosistem lainnya terganggu juga. Padang lamun yang berdekatan dengan terumbu karang merupakan padang penggembalaan ikan-ikan karang yang besar.

      Hutan mangrove adalah yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut, tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Hutan mangrove dicirikan oleh tumbuhan dari 9 (sembilan) genus (Avicennia, Sueda, Laguncularia, Lumnitzera, Xylocarpus, Aegiceras, Aegialitis, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, dan Sonneratia), memiliki akar napas (pneumatofor), adanya zonasi (Avicennia/ Sonneratia, Rhizophora, Bruguiera, Ceriops, Nypa), tumbuh pada substrattanah berlumpur/berpasir dan variasinya, dengan kadar salinitasyang bervariasi (Nybakken,1982).
Terumbu karang merupakan habitat berbagai jenis organisme laut pada tingkatan invertebrata seperti moluska, krustasea, dan jenis-jenis hewan bertulang belakang seperti ikan karang, penyu, mamalia laut (duyung), dan rumput laut. Jenis komoditi tersebut memiliki nilai ekonomis tinggi dan merupakan sumberdaya yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan bila pemanenannya dapat dikendalikan secara lestari. Jika terumbu karang dibiarkan rusak dan hancur maka akan terjadi kepunahan organisme penghuninya dan akan kehilangan sumberdaya perikanan yang nilai ekonominya tinggi. Terjadinya kerusakan terumbu karang yang saat ini telah meluas hampir di semua wilayah Indonesia mengancam kelestarian keanekaragaman hayati terumbu karang dan keberadaan ekosistem pantai.

      Habitat lamun dapat dipandang sebagai suatu komunitas, dalam hal ini padang lamun merupakan suatu kerangka struktural yang berhubungan dalam proses fisik atau kimiawi yang membentuk sebuah ekosistem. Mengingat pentingnya peranan lamun bagi ekosistem di laut dan semakin besarnya tekanan gangguan baik oleh aktifitas manusia maupun akibat alami, maka perlu diupayakan usaha pelestarian lamun melalui pengelolaan yang baik pada ekosistem padang lamun. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Ekinodermata ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta) (Bengen, 2001).

       Tujuan dari praktikum adalah untuk mengamati ekologi laut tropis di Kepulauan Seribu melalui pengambilan data lamun, terumbu karang, dan mangrove, serta untuk mengetahui karakteristik ekologi laut tropis, dan untuk memahami pengolahan data lamun, terumbu karang, dan mangrove.

Bahan dan Metode
Ekosistem Mangrove
      Pengambilan data ekosistem mangrove yaitu dengan melihat-lihat jenis pohon mangrove serta mengamati perakarannya. Setelah itu, dilakukan pengamatan mengenai biota-biota yang hidup di dalam stasiun yang ditentukan. Adapun alat yang digunakan adalah rollmeter digunakan untuk mengukur transek yang berukuran 10x10 m untuk pohon, 5x5 m untuk anakan, dan 1x1 m untuk semai, tali raffia untuk membentuk stasiun yang telah diukur dengan rollmeter, meteran jahit untuk mengukur keliling pohon, anakan, dan semai , papan jalan, data sheet dan alat tulis untuk mencatat data yang diperoleh, lugol, aquades dan formalin untuk mengawetkan biota yang ditemukan.

Ekosistem Lamun
      Penentuan stasiun lamun dilakukan dengan memilih lokasi yang diperkirakan ada padang lamun, kemudian dibentangkan tali sepanjang 50 m ke arah tegak lurus terhadap garis pantai. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan transek kuadrat sepanjang bentangan tali 50 m dengan jarak interval 10 m. Pada setiap interval dilakukan dua kali ulangan di bagian kanan dan kiri tali. Alat dan bahan yang digunakan: transek kuadrat digunakan untuk batasan perolehan data, rollmeter untuk mengukur jarak 50 m ke arah laut yang tegak lurus terhadap garis pantai serta mengukur interval jarak tiap transek, papan jalan, data sheet, dan alat tulis untuk mencatat data yang diperoleh, lugol, aquades dan formalin untuk mengawetkan biota yang ditemukan.

Ekosistem Terumbu Karang
      Metode monitoring Terumbu Karang dilakukan dengan cara Line Intercept Transek (LIT). Prosedurnya, rentangkan rollmeter di atas ekosistem terumbu karang minimal 50 m, perhatikan dan amati biot habitat dasar yang terbentang di bawah (menyinggung) rollmeter, tiap bentangan rollmeter terdiri tiga ulangan pengamatan sepanjang 10 m, setelah rollmeter dibentangkan, pengambilan data bergerak perlahan dari titik nol untuk mencatat transisi dan lifeform yang berada tepat di bawah transek pada lembar data. Pengambilan data harus mencatat lifeform biota habitat dasar dan transisi tempat pergantian lifeform. Antar ulangan pengamatan, terdapat jarak 5 m, tepat pada titik kelima setelah akhir pengamatan, pencatatan lifeform dan titik transisi dilanjutkan kembali hingga selesai tiga kali ulangan pengamatan.
   
      Alat dan bahan yang digunakan: transek kuadrat digunakan untuk batasan perolehan data, rollmeter untuk mengukur jarak 50 m ke arah laut yang tegak lurus terhadap garis pantai serta mengukur interval jarak tiap transek, papan jalan, data sheet, dan alat tulis untuk mencatat data yang diperoleh, lugol, aquades dan formalin untuk mengawetkan biota yang ditemukan, alat dasar selam untuk memudahkan pengambilan data ke terumbu karang.

Hasil

Ekosistem Mangrove
Tabel 1. Kerapatan, penutupan dan INP pohon mangrove
Jenis Kerapatan (ind/m2) Penutupan Rdi Rci RFi INP
Avicennia Sp 0.45 24.20 100 100 100 300

Tabel 2. Kerapatan, penutupan dan INP anakan mangrove
Jenis Kerapatan (ind/m2) Penutupan Rdi Rci RFi INP
Avicennia Sp 0.08 0.29 100 100 100 300

Tabel 3. Kerapatan, penutupan dan INP semai mangrove
Jenis Kerapatan (ind/m2) Penutupan Rdi Rci RFi INP
Avicennia Sp 0.03 0.034 100 100 100 300

      Pengamatan mangrove dilakukan pada pagi hari di Pulau Burung, Kepulauan Seribu. Praktikan mendapatkan stasiun pertama yang didominasi Avicennia sp. Setelah dilakukan perhitungan, nilai kerapatan tertinggi berada pada pohon mangrove dengan INP 0.45 ind/m2, anakan 0.8 ind/m2, dan semai 0.34 ind/m2. Dilihat dai penutupan, maka nilai yang tertinggi terdapat pada pohon mangrove 24.20 %. Dari komunitas mangrove yang berada pada stasiun pertama, biota yang mendominasi dihuni oleh gastropoda yang ditemukan di tiap ujung-ujung stasiun. Kemudian, biota lainnya ditemukan ketika melihat biota yang menempel/berada di pohon-pohon.

Ekosistem Lamun
Tabel 4. Kerapatan dan Penutupan Lamun
Jenis Kerapatan (ind/m2) Penutupan (%)
Transek Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4
Line 1 Cymodocea Sp 78 161 4 0 5.38 64.20 0.5 0
Line 2 Cymodocea Sp 0 0 0 11 0 0 0 1.3
Line 3 Cymodocea Sp 0 0 0 0 0 0 0 0

      Praktikum lamun dilakukan di utara Pulau Pari. Jenis lamun yang ditemukan hanya Cymodoce. Pertama, praktikum dimulai dengan mencari stasiun. Kelompok pertama mengalami kesulitan pada penentuan stasiun dikarenakan stasiun tidak terdapat lamun. Endapan minyak terdapat di pinggir-pinggir pantai. Kerapatan yang tertinggi berada pada transek 2 line pertama dengan nilai 161 ind/m2. Pada line pertama banyak ditemukan lamun. Hal ini berbeda dengan lamun pada line dua yang sedikit terdapat lamun, dan line tiga yang sama sekali tidak ditemukan lamun. Pada line tiga yang tidak ditemukan lamun, di line ini menjauhi daerah pinggir yang memang tidak ditemui lamun. Namun, di sekitar tubir pantai banyak terdapat lamun. Biota yang didapatkan paling dominan yaitu Arcaster sp (88,89%), Bivalvia (5,56%), Annelida (5,5,6%), Gastropoda (68%), Arcaster (24%) dan Annelida (8%).

Ekosistem Terumbu Karang
      Pengambilan data terumbu karang dan ikan karang dilakukan di selatan Pulau Pari dengan dua metode yaitu transek kuadrat dan LIT. hasil dari metode transek kuadrat didominasi oleh ACB. Sedangkan dengan metode LIT, dominan ACT. Ikan karang yang ditemukan ialah Pomacentridae yang ditemukan antara lain Diadematidae (26,32%), Acanthuridae (22,8%), dan Holocentridae (7%), Pomacentridae mendominasi ikan-ikan karang di wilayah tersebut dengan nilai 43,85%.

Kesimpulan
      Praktikum lapang di Kepulauan Seribu mengambil lokasi untuk data lamun di Pulau Pari, data terumbu karang dan ikan karang di Selatan Pulau Pari, dan data mangrove di Pulau Burung. Dari hasil pengamtan didapatkan hanya pohon mangrove, dan biota yang mendominasi ialah gastropoda. Jenis lamun yang ditemukan hanya Cymodocea. Biota yang didapatkan paling dominan yaitu Arcaster sp (88,89%), Bivalvia (5,56%), Annelida (5,5,6%), Gastropoda (68%), Arcaster (24%) dan Annelida (8%). Pengambilan data terumbu karang dan ikan karang dilakukan di selatan Pulau Pari dengan dua metode yaitu transek kuadrat dan LIT. Data ikang karang berbarengan dengan data terumbu karang. Biotanya ialah Diadematidae (26,32%), Acanthuridae (22,8%), dan Holocentridae (7%), Pomacentridae (43,85%).

Saran
      Pengambilan data mangrove, terumbu karang, ikan karang, dan lamun berjalan dengan baik. Namun, disesuaikan kembali tempat untuk tiap-tiap stasiun sehingga praktikan tidak berpindah-pindah tempat.

Daftar Pustaka
Bengen, D.G. 2001. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Pusat Kajian Sumberdaya
      Pesisir dan Lautan Institut Pertanian Bogor.
Nyabakken, J. W. 1992. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis. Diterjemahkan oleh H. M. Eidman,
      Koesoebiono, D. G. Bengen, M
Diberdayakan oleh Blogger.