Header Ads

Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan

Resume Fieldtrip Oseanografi Biologi dan Geologi
di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan, Bandung

    Laboratorium Oseanografi Biologi dan Geologi, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB, mengadakan fieldtrip di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL), Bandung, pada tanggal 5 Juni 2009. Fieldtrip ini dilakukan oleh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Oseanografi Biologi dan Geologi tahun 2009. Materi yang menjadi pembahasan yaitu penelitian Oseanografi Geologi yang dilakukan oleh peneliti dari P3GL. Penelitian lebih mengenai geofisik dengan menggunakan beberapa metode, diantaranya adalah metode seismic. Untuk pengambilan sample, P3GL mempunyai laboratorium di Cirebon.

    Materi yang diberikan oleh Ediar Usman, “Litbang Geologi Kelautan dalam Mengungkap Kondisi Geologi dan Potensi ESDM di Wilayah Laut Nasional”. Pemateri memaparkan bahwa, P3GL memiliki 2 tugas pokok, pertama, pemetaan sistematis, untuk energi, mineral, kebencanaan, keteknikan, lingkungan dan pengembangan wilayah (Pantai – ZEE dan LKI) yang memfokuskan di laut dangkal. Kedua, pemetaan tematik, kegunaannya sama dengan pemetaan sistematis, namun dilakukan sesuai dengan kebutuhan atau pesanan dari instansi yang membutuhkan data. Kajian Geologi Kelautan Tematik ialah mengkaji data yang telah ada dikembangkan sesuai dengan perkembangan metode bidang geologi kelautan.

    P3GL berdiri dengan visi dan misi untuk,menyelesaikan pemetaan di wilayah laut yang luas. Sektor ESDM yang dimiliki diantaranya pemetaan sistematik, lingkungan dan kebencanaan, dan potensi ESDM kelautan. Isu kelautan wilayah Indonesia yang menjadi sorotan dari P3GL diantaranya penegakan kedaulatan Indonesia, ZEE, LKI; potensi ekonomi; evaluasi penambangan golongan C; lingkungan dan pemanasan global. Selain itu, adapun isu kewilayahan mengenai bencana alam serta pertumbuhan ekonomi di bidang kelautan. Ekspedisi yang dilakukan P3GL menggunakan kapal yang disesuaikan dengan kebutuhan, Geomarin I, untuk laut dangkal; Geomarin II; dan Geomarin III untuk laut dalam (aplikasinya untuk geologi kelautan; fasilitas, dual frequency echosounder, multibeam, dan sebagainya). Menurut Ediar Usman, kesulitan untuk mengambil sample sudah bisa teratasi dengan kemutakhiran teknologi yang dimiliki oleh kapal Geomarin III. Adapun penelitian P3GL terhadap cekungan dilakukan di berbagai daerah, diantaranya Makassar Selatan. Biogenic gas yaitu gas yang terbentuk oleh campuran endapan tumbuhan dan sedimen
Materi yang diberikan oleh Dra. Krisna Dwi Tri Dewi, M.Sc mengenai “Partikel Biogenik: Komponen Sedimen Dasar Laut”. Puslitbang Geologi Kelautan – ESDM melakukan penelitian dasri dasar laut ke perut bumi. Di materi ini dibahas mengenai mikropaleontologi, merupakan cabang dari palaentologi yang mempelajari sisa-sisa organism (cangkang) dengan bantuan mikroskop.

    Sedimen di paparan dan lereng benua meliputi biogenic, authigenic, residual, relict, dan detrital. Mikroorganisme dibagi menjadi dua yaitu, tidak terawetkan dan terawetkan dalam sedimen. Komunitas partikel tertentu dalam sedimen dapat member informasi yang berkaitan dengan sejarah pembentukan lingkungan pengendapan. Mikroorganisme dasar laut bersifat epifaunal, infaunal dan semifaunal. Pengambilan sampel sedimen, dalam bentuk hidup : permukaan sedimen: sekop, grab sampler, piston corer; kolom air: plankton net. Dalam bentuk fosil (foraminifera dari Pringgoprawiro & Kapid, 2000), sampel darat: palu pada batugamping, napal, dan lempung; sampel laut: sekop, grab sampler, piston corer.
Bu Krisna memaparkan bahwa Foraminifera merupakan anggota Protista yang sangat melimpah di lingkungan air payau sampai laut dalam. Bentuk cangkangnya sangat bervariasi dari sederhana bulat, lonjong panjang sampai berduri-duri. Ostracoda merupakan mikroorganisma yang termasuk dalam anggota Crustacea. Ostracoda ditemukan di gua kapur, endapan gambut, mata air, persawahan, danau, kolam, genangan air serta daerah lembab.

Taksonomi dari Ostracoda:
Filum Arthropoda (anggota badan yang beruas-ruas)
Kelas Crustacea Pennant 1777 (cangkang/kulit luar yang keras).
Tidak masuk Filum Mollusca
Subkelas Ostracoda Latreille 1861.

    Peranan dan aplikasi ostracoda dalam dunia penelitian, pendidikan, dan industri tidak terlepas dari kemajuan teknologi dan informasi yang terus berkembang. Penemuan transmission dan scanning electron microscope sangat membantu ahli ostracoda (ostracodologist) untuk mengenal organisme ini lebih jauh dan menghasilkan sesuatu yang tidak terduga. Selain itu, kecanggihan komputer telah membantu melengkapi sistem pangkalan/basis data (data base) ostracoda dari berbagai aspek, seperti taksonomi, kisaran waktu, sebaran geografis, dan ekologis. Pangkalan data ini antara lain dapat digunakan untuk menelusuri garis keturunan ostracoda, studi (palaeo) zoogeografi, pola migrasi, dan lain sebagainya.

    Demikian juga dengan adanya kemajuan alat komunikasi memungkinkan para ahli ostracoda dapat saling berdiskusi, dan berbagi ilmu serta informasi secara cepat dan mudah. Komunikasi yang terkoordinasi melalui Cypris,Ostracon, IRGO, IRGO dan EOM telah berjalan dengan baik sebagai alat penghubung para ahli ostracoda dalam menginformasikan agenda penelitiannya.
Diberdayakan oleh Blogger.