Header Ads

Alat Ukur Tingkat Kesegaran Ikan

Foto: Alat Kesegaran Ikan

                Saat ini, industrialisasi di dunia perikanan menekan para pengusaha untuk berproduksi ikan yang berkualitas, sehingga dapat bersaing dengan ikan import. Indikator mutu ikan yang baik adalah kesegaran ikan yang biasa diuji melalui inspeksi visual, uji organoleptik serta uji kandungan bakteri. Cara tersebut tidaklah mudah, untuk itu, Indra Jaya membuat alat ukur yang mudah dioperasikan serta memberikan informasi tentang tingkat kesegaran ikan.

                Konsep blue economy yang dicanangkan oleh pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan akhir-akhir ini, memberikan peranan penting dalam peningkatan permintaan produk perikanan domestik. Para pembudidaya semakin semangat untuk meningkatkan kuantitas produksi, tentunya, mereka juga berpacu dalam peningkatan kualitas produk.  Ikan yang segar masih menjadi pilihan utama dalam kontrol mutu produk.
 Selama ini, metode penentuan kesegaran ikan, dilakukan dengan visual maupun skala laboratorium. Dilihat sekilas, metode tersebut sederhana dan mudah, tetapi, diperlukan orang yang benar-benar ahli sehingga keakuratannya dapat dipastikan. Permasalahan ini diselesaikan oleh Indra Jaya, Peneliti dari Institut Pertanian Bogor, yang berhasil membuat alat pengukur tingkat kesegaran ikan sebagai alternative pengujian kesegaran ikan berdasarkan metode akustik (gelombang suara).
                “Alat ini memberikan informasi tentang kondisi terakhir ikan pada saat diperiksa apakah masih layak konsumsi atau tidak. Sasarannya adalah pedagang dan konsumen yang peduli terhadap mutu ikan.” Ucap Indra Jaya yang menjabat Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan  Institut Pertanian Bogor (FPIK IPB).
                Indra Jaya berprinsip bahwa hasil akhir dari penelitiannya, harus menghasilkan alat yang mudah dioperasikan oleh siapa saja dan informasi yang konsisten dan obyektif tentang tingkat kesegaran ikan. Penelitian yang dilakukannya dimulai dari 5 tahun lalu dengan melibatkan dosen dan mahasiswa di Laboratorium Instrumentasi Kelautan, Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, FPIK IPB.

Metode Penelitian        
                Pendekatan metode akustik yang diterapkan adalah memberikan pulsa gelombang suara yang dipancarkan dan diterima oleh transduser (sensor pemancar dan penerima gelombang). Sedangkan, sensor yang digunakan yaitu sensor ultrasonic (sensor suara berfrekuensi tinggi) untuk mengetahui kondisi atau karakteristik pantulan suara terhadap target yang diamati, dalam hal ini ikan. Pemilihan metode ini dikarenakan sifatnya tidak merusak, tidak menyentuh obyek langsung dan praktis.
                Sebagai obyek penelitian, ikan yang dipilih adalah ikan patin utuh dan fillet patin. Penelitian dimulai dengan konfigurasi pengukuran berdasarkan metode akustik dengan berbagai tahapan. Pertama, kalibrasi instrument dengan menghidupkan, mengatur dan menentukan setiap penembakan yang dilepaskan oleh transduser ke target ikan.
                Setelah  kalibrasi selesai, sampel ikan yang diuji dipersiapkan untuk ditembakkan pulsa suara. Di sini, pulsa yang dikirimkan melalui transduser berupa gelombang suara dengan pengulangan setiap 0.1 detik. Jarak yang diberikan untuk transduser ke target adalah 17 cm (sudah diluar nearfield transduser). Pantulan suara yang diterima akan diproses oleh instrument. Hasilnya akan tampil berupa nilai-nilai pada display yang menentukan tingkatan kesegaran ikan.
                Pengambilan data dilakukan setiap 1 jam sekali dengan beberapa kali pengulangan selama 24 jam. Data yang didapatkan, kemudian diolah untuk dianalisis. Di penelitian ini, hasil dari penelitian adalah grafik-grafik yang menunjukkan variasi tingkat penerimaan pulsa berupa peak amplitude terhadap perubahan kondisi ikan.

Hasil Penelitian
                Perlakuan selama 9 jam pertama ikan patin masih dalam kondisi sangat segar, refleksi pantulan menunjukkan  pada jam tersebut patin mengalami fase yang pertama kali dialami ikan ketika pertama kali mati (fase prerigormortis). Ikan masih bersifat segar, dan terdapat kandungan air, kulit ikan masih sangat kenyal.
    Di jam berikutnya, jam ke-10 sampai ke-19, patin mengalami transisi perubahan mutu dari fase prerigormortis ke rigormortis, dimana pada fase rigormortis daging dan kulit ikan mulai mengeras dan mulai kehilangan cairan dari daging ikan. Fase biokimiawi yang kompleks ini adalah tahapan setelah fase pre-rigor. Nilai yang tampil pada display naik, dan seterusnya.  Setelah fase rigor awal, nilai terus menerus mengalami penurunan karena jaringan otot ikan tidak mampu lagi mempertahankan kekenyalan dagingnya.
    Pada jam ke- 20 sampai jam ke- 24 grafik refleksi menurun kemudian stabil karena ikan telah mengalami perubahan menjadi fase postrigor, kondisi daging ikan membusuk sudah tidak kenyal, sedangkan kulit ikan semakin mengeras sehingga nilai pantulan yang dihasilkan lebih rendah. Semakin kecil dan stabil nilai pantulan yang dihasilkan berarti tekstur daging ikan sudah tidak kenyal karena mengalami penurunan mutu (deteriorasi).
    Perlakuan Patin dengan skin on (masih ada kulitnya) dengan metode akustik fase prerigor terjadi pada waktu ke 0 -11 jam. Fase rigormortis terjadi pada waktu ke 11 -18 jam dan fase postrigor terjadi pada waktu ke 19 - 24 jam. Sedangkan, perlakuan Patin dengan skinless fillet (tanpa kulit) dengan metode akustik, fase rigor terjadi pada waktu ke 0 -11 jam dan fase postrigor pada waktu ke 12 - 24 jam. Pada skinless fillet hanya terjadi 2 fase saja karena selama pemisahan daging dengan kulit ikan dalam kondisi segar ikan cepat terkontaminasi oleh udara dan cepat kehilangan cairan sehingga setelah 11 jam skinless fillet sudah mulai membusuk.
    Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa alat ukur yang dibuat oleh Indra Jaya memberikan hasil yang tidak berbeda jauh dengan hasil yang diperoleh melalui metode konvensional selama ini.
Melalui penelitiannya, Indra Jaya mengupayakan alatnya ini dapat dikomersialkan segera, mengingat kebutuhan dari industry perikanan yang meningkat. “Kami masih mengupayakan untuk terus menekan biaya dan membuat alat ini sepraktis mungkin sehingga mudah dibawa dan dioperasikan.” Harapnya.
               
Penulis : @azzahraNisaa 
Diberdayakan oleh Blogger.