Header Ads

Djakarta; 5 Yang Paling Hits di Eranya

Tempat-tempat ini pernah eksis di Jakarta. Tapi Sekarang tinggal sebuah nostalgia bagi warga Jakarta yang pernah mencicipinya. Mungkinkah diadakan lagi tempat semacam ini?

1. Teater Mobil Ancol

Ilustrasi (bukan gambar sebenarnya)
Sumber : www.koran-jakarta.com

Di era pemerintahan Presiden Soekarno, pemerintah tidak ingin membiarkan kawasan Ancol yang berawa dan penuh lumpur, terus terpuruk dan menakutkan. Saat itu Presiden memerintahkan agar Ancol dikembalikan menjadi wisata bagi warga Jakarta. Pada tahun 1966, kawasan Ancol mulai dibenahi, diawali dengan pembangunan kawasan Pantai Binna Ria Ancol yang terkenal dengan Theater Mobil di era 1970-an. Di era 80-an kawasan ini juga dikenal sebagai tempat "mobil bergoyang", karena di dalan nobil terdapat dua insan jenis yang sedang bermesraan. Tanpa sadar, aktivitas mereka menimbulkan 'goyangan' dan membuat mobil ikut bergoyang. Mungkin karena efeknya ini, maka lambat laun Theater Mobil mulai kehilangan peminat yang akhirnya ditutup.

2. Taman Ria Pembangunan Senayan

Sumber : www.foto.news.viva.co.id

Sebelum ada Dunia Fantasi dan Trans Studio, Jakarta pernah punya arena bermain (theme park) di tengah kota. Namanya Taman Ria Pembangunan, yang dibangun oleh Rukun Ibu Ampera Pembangunan yang disingkat menjadi RIA Pembangunan pada tahun 1970. Para Ibu ini prihatin dengan kenakalan remaja saat itu yang sudah mencapai titik mengkhawatirkan. Padahal dibandingkan sekarang mungkin lebih mengkhawatirkan remaja saat ini. Untuk itulah, dibangun taman yang memiliki sarana kereta mini, cawan sukaria, komedi ria, bus mini, panggung terapung serta kolam pemancingan. Walau sempat dipugar kembali pada tahun 1995. Taman Ria ternyata kalah saing dengan taman sejenis yang mulai merebak di Jakarta dan sekitarnya. Sekarang, taman ini pun menghilang tanpa bekas.

3. Lipstick Diskotik Blok M

Sumber : www.ruangkabar.com

Di era 70-80an, disko enjadi menu wajib tempat hiburan malam. Tapi berdisko menggunakan sepatu roda, sepertinya hanya Diskotik Lipstick di kawasan Blok M yang punya kelebihan ini. Kala itu, rasanya sudah paling gaul kalau bisa berdisko sambil bersepatu roda di sini. Dan bukan hanya malam hari, siang hari pun tempat ini tetap beroperasi. Enggak sampai tahun 90'an, diskotik ini tutup dan hingga kini tempat sejenis Lipstick belum tergantikan.

4. Pasar Gambir Monas

Sumber : www.uniqpost.com

Sumber : www.gaptekupdate.com


Berawal dari perayaan tahunan yang diadakan pemerintah Belanda, Pasar Gambir sempat terhenti dan diadakan kembali pada tahun 1968. Gubernur Jakarta kala itu, Ali Sadikin mengghidupkan kembali hiburan murah Pasar Gambir yang kemudian berganti nama menjadi Djakarta Fair. Saat itu Djakarta Fair diramaikan dengan berbagai tontonan, anjungan pameran, rumah makan dan pedagang kaki lima. Makanan khas Pasar Gambir adalah kerak telor. Acara yang diadakan di kawasan Tugu Monumen Nasional ini juga sekaligus menjadi ajang mejeng muda mudi tempo dulu. Namun semenjak dipindahkan ke Kemayoran pada tahun 1992, Djakarta Fair sudah berubah konsep dan nama menjadi Pekan Raya Jakarta.

5. Hailai Ancol
Sumber : www.ancol.com

Pada masanya, Hailai International Executive Club menjadi tempat hiburan malam kelas orang berduit. Selain bisa berjoget di dalam diskotik dan nightclub Hailai, pengunjung bisa menikmati hiburan karaoke atau olahraga bowling. Enggak ketinggalan, fasilitas restauran dengan kapasitas 3500 orang. Sayang, tempat hiburan yang sudah berdiri puluhan tahun ini semakin redup dengan hadirnya tempat sejenis yang mulai menyebar di Jakarta. Hailai pun resmi tutup pada tahun 2011.


Sumber Artikel : Majalah djakarta! Edisi No 164, Juli 2013
Diberdayakan oleh Blogger.