Header Ads

Mencari Bahan Baku Fillet Patin yang Berkualitas

            Penyediaan stok ikan dalam bentuk fillet, dianggap dapat menaikkan harga jual patin. Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLU-PPB) Karawang mampu menemukan cara membuat patin berkualitas dengan harga yang layak. Kuncinya terletak pada kualitas pakan dan lingkungan budidayanya.

Bersaing dengan Vietnam, patin, ikan tawar yang menjadi salah satu produk unggulan pemerintah ini terus digalakkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pembudidaya domestik saat ini sedang berjuang keras melawan Vietnam. Kesuksesan Vietnam dipengaruhi oleh dukungan pemerintahnya dengan kebijakan-kebijakan, ekspansi pasar eksport ke berbagai negara tetangga termasuk Indonesia dan perkembangan infrastruktur pemrosesan serta pabrik pakannya.
Di tahun 2011, produksi yang dapat dicapai oleh pembudidaya Indonesia sebesar 60% dari yang ditargetkan. Kenaikan produksi tersebut, dipengaruhi oleh permintaan pasar yang meningkat, sehingga membangkitkan semangat para pembudidaya untuk menggenjot produksinya. Namun, produksi yang meningkat, tidak membuat perolehan rupiah yang diterima pembudidaya meningkat.
Di kalangan pembudidaya sendiri, saat ini lebih memilih patin untuk diolah dengan harapan dapat meningkatkan harga jual ikan. Namun, di industry pengolahan terutama fillet, memberikan kriteria khusus untuk patin yang dapat diolah, yaitu patin tidak berbau lumpur, bobot patin harus 800 gram ke atas, lemak patin tidak terlalu banyak serta tekstur yang baik.
            Fillet patin yang berkualitas tidak akan didapatkan bila  benih unggul, namun kurang dalam pemberian gizi. Sebaliknya, pakan bergizi namun lingkungan buruk. Teknik produksi bahan baku fillet patin diperoleh dari benih unggul yang secara genetis akan terlihat keunggulannya dalam lingkungan yang optimal dan mendapat nutrisi yang dibutuhkan. Teknik inilah yang diterapkan oleh BLU-PPB Karawang untuk memperoleh patin yang berkualitas.
            “Sejak tahun 2002 sampai sekarang dinyatakan belum adanya regenerasi indukan patin yang baik, sehingga benih yang muncul juga kurang baik. Di Jambi, pembudidaya mendatangkan indukan dari Vietnam. Sekarang waktunya bangkit dengan memperbaiki mutu indukan.” Ucap salah satu pembicara pada pertemuan Komisi Catfish Indonesia, beberapa waktu lalu, Hotel Ibis, Jakarta.

Teknik Produksi Bahan Baku Fillet Patin
            Manajemen pengelolaan budidaya patin di BLU-PPB Karawang, sama dengan budidaya  lainnya yang meliputi pemeliharaan induk, pemijahan buatan, pemeliharaan larva, pendederan, pembesaran dan pembuatan pakan. Di pemeliharaan induk, wadah berupa kolam dan keramba. Di kolam, padat tebar yaitu 0.7-1 kg/m2 sedangkan di karamba, 6-7 kg/m3.  
            Lingkungan yang baik akan menunjang kualitas dari patin. Di Karawang, tipe budidaya ikan patin dengan menerapkan tiga tipe yaitu karamba bambu gantung, karamba jaring apung, dan pen culture. Tahun 2011, dimulainya intensifikasi pembesaran ikan patin siam di tambak yang menggunakan areal tambak yang mempunyai air tawar cukup secara kontinu. Hingga saat ini, produktivitas antara 45-53 ton/3300 m2 atau 135-160 ton/ha.
            “Ada 5 ha per baris dengan kapasitas 50 ton per petak. Suplai irigasi pun tersedia, kapasitasnya 2000 liter per detik. Jadi, total petakan kami ada 350 ha.” Imbuh pembicara tersebut. Sistem aerasi menggunakan kincir yang berputas 8-10 jam per hari. Pergantian air dilakukan secara rutin setiap 5-7 hari sekali antara 10-20%.
            Pakan yang diberikan berupa protein 28-32% dan 35-40% di pagi dan sore hari. Persentase pemberian pakan yaitu 1.5 – 2% dari bobot total tubuh ikan. Untuk teknik pemijahan buatan, sama hal nya dengan teknik yang dilakukan pembudidaya secara umum. Di segmentasi usaha budidaya ikan patin, diharapkan dapat tercapai produksi larva dalam sehari, produksi benih 8/4 – 1 inch dan 2-3 inch serta ikan produksi ukuran konsumsi sebesar 600-800 gram.
            Kualitas pakan tergantung dari nutrisinya. Protein tinggi, berarti kualitas pakan tinggi. Bahan penyusun protein mengandung asam amino. Sedangkan bahan sumber proteinnya terdiri dari protein hewani dan nabati. Lemak yang tinggi akan menyebabkan energi yang besar untuk kelangsungan hidup ikan serta pertumbuhannya. Vitamin dan mineral akan mempengaruhi vitalitas dan daya tahan tubuh patin. Untuk itu, harus diatur keseimbangan energy dengan protein untuk menghasilkan pertumbuhan yang efisien. Tentunya, pakan yang berkualitas  yang memiliki efisiensi pakan tinggi atau FCR rendah akan mempercepat pertumbuhan ikan.
            Sumber protein pada pakan terbaik didapatkan dari tepung ikan, namun harganya mahal. “Sebagai alternative, sumber protein didapatkan dari sumber hewani yaitu tepung bulu, tepung tulang, tepung ayam. Sumber nabati dari tepung kedelai, gluten (jagung dan terigu) dan lain-lain.” Ucapnya. Stabilitas mutu produk pakan ditentukan oleh proses produksi, mutu bahan baku dan pengawasan proses dan hasil produksi.
            “Sebaiknya mesin produksi pakan tidak memproduksi dalam jumlah banyak karena tidak akan bekerja secara optimal.” Sambungnya. Manajemen penggunaan pakan menentukan keberhasilan pakan diantaranya cara penggunaan pakan, pemilihan ukuran pakan, kesegaran pakan dan penyimpanan pakan.

Strategi Pengembangan Penyediaan Bahan Baku Ikan Patin
            Kebijakan pertama yang dilakukan BLU-PPB adalah segmentasi usaha pembesaran dengan langkah memperbesar ukuran tebar sampai dengan 100 gram per ekor. Hasilnya, akan meminimalkan ikan undersize sehingga mengurangi overhead cost.
Selanjutnya, kebijakan ekspansi areal pembesaran dengan identifikasi dan rehabilitasi tambak yang mempunyai suplai air tawar yang menyebabkan aktifnya tambak idle. Langkah berikutnya pembesaran ikan patin di kolam air deras yang akan meningkatkan ketersediaan bahan baku berkualitas.
Kawasan terpadu budidaya ikan patin, merupakan kebijakan untuk pengaturan waktu dan pola tebar. Tujuannya, mengkontinuitaskan bahan baku. Subsidi pakan, kebijakan yang diperlukan oleh para pembudidaya. Hal yang dapat dilakukan adalah dengan pengawasan distribusi pakan bersubsidi oleh pemerintah sehingga harga bahan baku lebih kompetitif.

Hasil Produksi
            Pembenihan yang dilakukan di luas lahan 0.62 ha dengan perencanaan 10 sikulus, dimulai dari Februari hingga Desember 2012. BLU-PPB menargetkan 1.360.000 ekor. Sedangkan pembesaran di luas lahan 2.5 Ha dengan perencanaan 2 sikulus, yaitu Februari hingga Desember 2012, menargetkan 200.000 kg. Hasilnya, ikan produksi mencapai 127.939 kg, fillet 83.312 kg dan konsumsi sebesar 44.627 kg.
            Factor-faktor yang mempengaruhi performace warna bahan baku atau daging ikan patin yaitu penggunaan pakan komersil atau pabrikan menghasilkan warna yang lebih putih daripada menggunakan pakan alternative dan by product. Tak hanya itu, pergantian air yang rutin dapat menghasilkan warna daging yang lebih putih.
            Rincian untuk pembesaran patin, di kepadatan 30 ekor/m2, dapat berproduksi 13.64 kg/m2 dengan persentase ukuran panen di atas 700 gram per ekor sebesar 60%, di bawah 700 gram per ekor sebesar 40%. FCR-nya yaitu 1.35 dengan penggunaan pakan apung. Hasil lebih besar di kepadatan 33, mampu produksi hingga 16.06 kg/m2 dengan persentase ukuran panen di atas 700 gram per ekor sebesar 67%, di bawah 700 gram per ekor sebesar 34%. FCR-nya yaitu 1.54 dengan penggunaan pakan tenggelam.
            Penyediaan bahan baku ikan patin dari BLU-PPB Karawang periode November 2011 – Juli 2012 mencapai 127.939 kg. Rinciannya sebagai berikut, ukuran di atas 700 gram per ekor sebanyak 83.132 kg, di bawah 700 gram per ekor sebanyak 44.627 kg. Pendistribusian ke tiga perusahaan yaitu PT. Kencana Mitra Mandiri (Jakarta) 65.312 kg, PT. Adib Global Food (Jakarta) 15.000 kg dan PT. Inti Mas (Muara Baru) 3.000 kg.
            “Ke depan akan ada fillet patin yang dipasarkan secara besar-besaran sehingga tercipta peluang pasar yang cukup besar. Terutama potensi dasar domestic, kemudian untuk ekspor.” Ucap Saut Hutagalung, Dirjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kuantitas bahan baku ikan patin di BLU-PPB diantaranya penggunaan benih yang lebih besar (> 4 inchi) untuk meminimalkan persentase ikan undersize (< 700 gram per ekor). Selain itu, memperluas feeding point saat pemberian pakan sehingga mengurangi kompetisi mendapatkan ikan.
            Akhirnya, BLU-PPB mendapatkan kualitas produk bahan baku patin yang baik yaitu tidak mengandung antibiotic, tidak bau tanah, daging tidak lunak, untuk fillet harus buang darah sebelum masuk pabrik, warna daging tidak terlalu kuning, target yield fillet 27-28% di pabrik (sampai semua daging merah dibuang) serta size relative seragam yaitu 700-800 gram.  

Penulis: @azzahraNisaa
Diberdayakan oleh Blogger.