SOSOK BASO PATOLAI; STRATEGI, KUNCI KESUKSESANNYA
| Foto: Baso Patolai |
| Foto: Lahan Milik Baso Patolai di Jambi |
| Foto: Baso Patolai sebagai Pembicara di Rapat Bulanan Penyuluhan Wilayah Jambi |
Penyuluh Swadaya yang satu ini berbeda dibandingkan penyuluh lainnya. Berlatar pendidikan magister dari nutrisi peternakan, Baso Patolai, nekat terjun menekuni usaha budidaya patin. Hasilnya, Baso mampu mengantarkan kelompok Mina Sukses menjadi pemenang pertama Gempita 2011. Kerja keras dan strategi menjadi pondasi utamanya untuk membangun pilar kesuksesannya.
Memasuki wilayah Desa Tangkit Baru, Kecamatan Kumpeh Ulu, Kabupaten Muaro
Jambi terlihat kanan kiri jalan ditumbuhi oleh kelapa sawit dan pepohonan
nenas. Desa yang berjarak 20 kilometer selatan dari Kota Jambi di siang hari
terik tidak tampak banyak aktivitas warganya. Ketika ditemui di rumahnya, Baso
Patolai yang akrab dipanggil Baso mengenakan topi untuk lapang. Kami diajak
menuju kolam-kolam dibelakang rumahnya.
Baso menunjukkan sekitar 2400 kolam ikan yang terdiri dari patin, nila dan gurame. Di sinilah, kegiatan warga Desa Tangkit Baru beraktivitas dalam memberikan pakan ikan serta pendederan ikan. Di nilai dengan rupiah, kolam yang dimilikinya akan menghasilkan angka-angka rupiah yang fantastis. Namun, kesemuanya ada yang merupakan milik bersama kelompok usaha tani warga Desa Tangkit Baru. “Ada peningkatan 300 persen per tahun setelah tempat saya berhasil.” Imbuhnya.
Baso menunjukkan sekitar 2400 kolam ikan yang terdiri dari patin, nila dan gurame. Di sinilah, kegiatan warga Desa Tangkit Baru beraktivitas dalam memberikan pakan ikan serta pendederan ikan. Di nilai dengan rupiah, kolam yang dimilikinya akan menghasilkan angka-angka rupiah yang fantastis. Namun, kesemuanya ada yang merupakan milik bersama kelompok usaha tani warga Desa Tangkit Baru. “Ada peningkatan 300 persen per tahun setelah tempat saya berhasil.” Imbuhnya.
Di Jambi, warga Desa Tangkit Baru mengenal Baso sebagai pengusaha sukses
patin. Tidak khayal, warga beramai-ramai menanamkan uangnya sebagai investasi
di kolam-kolam ikan tersebut. Mereka juga terlibat dalam pemeliharaan kolam.
“Tergantung ya, kesepakatan di awalnya. Ada yang hanya menanamkan modal. Ada
yang mau dilibatkan dalam pemeliharaan. Nantinya, masalah keuntungan sudah ada
perjanjian di atas materai yang sudah disepakati bersama.” Ucap Bapak yang
memiliki dua puteri, dan satu putera ini.
Sosoknya yang sederhana dan necis ini tertarik menjadi penyuluh swadaya di
awal tahun 2012 bersamaan dengan kelahiran puterinya yang ketiga. Keputusannya
menjadi penyuluh swadaya didasari oleh kematangannya menguasai budidaya patin
di Jambi. Masalah kredibilitas, Baso hingga saat ini sudah memiliki banyak
penghargaan di bidang perikanan. Hal terlihat dari sebuah lemari di rumahnya yang
berisikan berbagai medali, plakat, piala serta penghargaan-penghargaan yang
terpampang dengan baik dan rapih.
Awal Karier
Sarjana
Peternakan di Universitas Jambi, merupakan gelar yang disandang oleh Baso
Patolai di awal pendidikannya. Berbekal beasiswa dari DIKTI, Baso yang
bermimpikan sebagai seorang dosen melanjutkan magister di Universitas Andalas. Namun, belum
ada kepastian pekerjaan yang diharapkan pasca kelulusan magister, Baso menilik
usaha perikanan yang dilihatnya potensial. Setelah dipelajarinya, Baso
memutuskan untuk memulai usaha patin.
Menurut
Baso, membudidayakan patin bisa dilakukan semua kalangan. Kriteria tanah dengan
pH tanah rawa yang di antara 5 – 8 di Indonesia mendukung untuk kolam-kolam
tempat hidup ikan patin. Untuk pakannya, bisa diambil dari bahan baku sekitar
kita seperti dedak, atau limbah menir, maupun bungkil kelapa serta sisa-sisa dari
sawit. “Penggunaan pakan pabrikan tergantung oleh skala usahanya, besar atau
tidak. Butuh atau tidak.” Imbuhnya.
Kolam
awal yang dikelolanya ada 20 kolam, yang merupakan milik keluarga. Setelah di
uji cobanya dengan modal membaca buku dan pengalaman yang dimilikinya,
mengalami perkembangan yang cukup bagus dan pesat. Keuntungan awal yang
didapatkan sebesar 2 juta rupiah. “Saya berpikir bagaimana kalo punya enam
kolam, dan panen tiap bulannya.” Ucap Baso yang pernah meraih sebagai Konsultan
Keuangan Mitra Bank (KKMB) Teladan I tahun 2007.
“Patin mudah dipelihara, tak
membutuhkan teknologi khusus. Sudah bisa dikembangkan dengan baik. Terutama, di
Sumatera, ” sambungnya. Menurut Baso, pasaran patin masih terbuka lebar.
Masyarakat saat ini sudah mau mengkonsumsi ikan patin sebagai menu makanannya.
Perkembangan Usaha
Patin Saat Ini di Jambi
Permintaan patin di Jambi,
ternyata tinggi di tahun 2005. Sehingga, Baso mampu mensupply patin ke
kabupaten lainnya di Jambi. Di tahun tersebut, baso sudah mampu memproduksi
patin sebesar 20 ton per hari. Baso juga mengirim ke Sumatera Selatan dan
Bengkulu. Peningkatan permintaan, meningkatkan juga produksi patin hingga 30
ton per hari. Namun, kenaikan ini menimbulkan maraknya budidaya patin di
berbagai kabupaten Jambi.
“Peningkatan
jumlah permintaan mengakibatkan overproduksi,” ucapnya. Pemasaran
yang dilepas dan tidak mendapat perhatian pemerintah setempat mengakibatkan
usaha Baso sempat mengalami kerugian besar. “Saat ini, kanan kiri di wilayah
kabupaten sama-sama memproduksi patin. Untuk itu, saya mulai menaruh nila dan
gurame di kolam-kolam.” Sambungnya.
Bagi
Baso, strategi yang baik harus diterapkan untuk usaha patin di Jambi. Misalnya,
dari 10 kabupaten, dibagi-bagi berdasarkan kategori pengembangan wilayahnya. Baso
mencontohkan bila ada dua kabupaten sebagai sentra produksi, dua kabupaten
sentra olahan, sisanya sentra benih dan pembesaran. Maka akan saling mendukung.
“Ini anggaplah pemetaan kebutuhan jadi tidak semuanya usaha yang sama.”
Ungkapnya.
Penanggulangan
krisis keuangan di usahanya, Baso menanggapi dengan strategi lain, yaitu
pengolahan. Ikan-ikan patin yang dikelolanya diolah menjadi kerupuk seperti mie
yang digoreng berasal dari ikan patin atau yang biasa disebut tiktik. Harga per
kilogram untuk ikan patin 40 ribu rupiah. Sedangkan ikan nila 45 ribu rupiah.
Produk ini dipasarkannya di pasar swalayan terdekat. Pengelolaannya di
percayakan pada istrinya, Sutrisni, yang merupakan lulusan akademi kebidanan.
Di
tangan istrinya, pengolahan ikan patin dikembangkan di anak Kelompok Mina
Sukses, yaitu Kelompok Harmonis. Sutrisni bergerak sebagai ketua kelompok.
Untuk produksi, dibantu oleh ibu-ibu di Desa Tangkit Baru. Sebelumnya, Sutrisni
hanya terlibat sebagai bendahara di Kelompok Mina Sukses. Di masa kunjungan Infomina pada bulan Ramadhan di
kediaman Pasangan Suami Istri ini, aktivitas ibu-ibu Kelompok Harmonis beralih
produksi kue lebaran. “Nanti kalo pasca lebaran kembali lagi berproduksi
tiktik,” ucapnya sambil tersenyum.
Penulis : @azzahraNisaa