Pasang Surut (2)
Tipe pasang surut
Tipe pasut ditentukan oleh frekuensi air pasang dengan surut setiap harinya. Hal ini disebabkan karena perbedaan respon setiap lokasi terhadap gaya pembangkit pasang surut. Jika suatu perairan mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, maka kawasan tersebut dikatakan bertipe pasut harian tunggal (diurnal tides), namun jika terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari, maka tipe pasutnya disebut tipe harian ganda (semidiurnal tides). Tipe pasut lainnya merupakan peralihan antara tipe tunggal dan ganda disebut dengan tipe campuran (mixed tides) dan tipe pasut ini digolongkan menjadi dua bagian yaitu tipe campuran dominasi ganda dan tipe campuran dominasi tunggal.
Selain dengan melihat data pasang surut yang diplot dalam bentuk grafik, tipe pasang surut juga dapat ditentukkan berdasarkan bilangan Formzal (F) yang dinyatakan dalam bentuk :
F = [A(O1) + A(K1)]/[A(M2) + A(S2)]
dengan ketentuan :
F ≤ 0.25 : Pasang surut tipe ganda (semidiurnal tides)
0,251.50F > 3.0 : Pasang surut tipe tunggal (diurnal tides)
dimana:
F : bilangan Formzal
AK1 : amplitudo komponen pasang surut tunggal utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari
AO1 : amplitudo komponen pasang surut tunggal utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan
AM2 : amplitudo komponen pasang surut ganda utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan
AS2 : amplitudo komponen pasang surut ganda utama yang disebabkan oleh gaya tarik matahari
Karena sifat pasang surut yang periodik, maka ia dapat diramalkan. Untuk meramalkan pasang surut, diperlukan data amplitudo dan beda fasa dari masing-masing komponen pembangkit pasang surut. Komponen-komponen utama pasang surut terdiri dari komponen tengah harian dan harian. Namun demikian, karena interaksinya dengan bentuk (morfologi) pantai dan superposisi antar gelombang pasang surut komponen utama, akan terbentuklah komponen-komponen pasang surut yang baru.
Pada buku peramalan pasang surut yang dikeluarkan oleh DISHIDROS dan BOKOSURTANAL tertulis nilai komponen pasut tersebut baik amplitudo maupun fase pada beberapa lokasi di perairan Indonesia. Dengan mengetahui amplitudo komponen tersebut, maka dapat dihitung nilai bilangan Formzalnya.
Arus pasang surut
Pasut merupakan salah satu faktor dasar dalam pengkajian arus di laut. Gerakan arus pasut dari laut lepas yang merambat ke perairan pantai akan mengalami perubahan, faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah berkurangnya kedalaman (Mihardja et,. al 1994). Permukaan air laut senantiasa berubah-ubah setiap saat karena gerakan pasut, keadaan ini juga terjadi pada tempat-tempat sempit seperti teluk dan selat, sehingga menimbulkan arus pasut (Tidal current).
Pada waktu gelombang pasut merambat memasuki perairan dangkal, seperti muara sungai atau teluk, maka badan air kawasan ini akan bereaksi terhadap aksi dari perairan lepas. Menurut King (1962) arus yang terjadi di laut teluk dan laguna adalah akibat massa air mengalir dari permukaan yang lebih tinggi ke permukaan yang lebih rendah yang disebabkan oleh pasut. Arus pasang surut adalah arus yang cukup dominan pada perairan teluk yang memiliki karakteristik pasang (Flood) dan surut atau ebb.
Arus pasang surut yang terjadi di perairan teluk adalah gerakan massa air yang dipengaruhi oleh gerakan pasang surut yang merambat secara horizontal yang menyebabkan massa air kelaur masuk perairan tekuk. Kecepatan maksimum arus terjadi pada saat bulan mati (new moon) atau bulan penuh (Full moon), sedangkan kecepatan harian arus pasut dihubungkan dengan fluktuasi pasut.
Alat-alat pengukuran pasang surut
Pengukuran pasang surut dilakukan menggunakan Tide Staff, Tide Gauge dan satelit. Tide Staff adalah alat berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter. Papan skala atau Tide Staff banyak digunakan karena relatif murah, akan tetapi tingkat ketelitian data pengukuran bergantung pada pengguna. Tide Gauge, alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam komputer. Satelit atau metode yang dipakai adalah metode Admiralty. Metode ini digunakan untuk menentukan amplitudo (A) dan fase (g) dari komponen-komponen utama pasang surut.
Pasang surut di perairan Indonesia
Keadaan pasang surut (pasut) di wilayah perairan Nusantara ditentukan oleh penjalaran pasang surut dari Samudra Pasifik dan India serta morfologi pantai dan Batimeri perairan yang kompleks, dimana terdapat banyak selat, palung dan laut yang dangkal sampai sangat dalam.
Keadaan perairan yang disebut diatas membentuk pola pasang surut yang sangat beragam. Di Selat Malaka pasang surut setengah harian (semidiurnal) mendominasi tipe pasut di daerah tersebut. Berdasarkan pengamatan pasang surut di Kabil, Pulau Batam di peroleh bilangan Formzahl sebesar 0,69. Jadi tipe pasang surut di Pulau Batam dan Selat Malaka pada umumnya adalah pasut bertipe campuran dengan tipe ganda yang menonjol. Pasang surut harian (diurnal) terdapat di Selat Karimata dan Laut Jawa. Berdasarkan pengamatan pasut di Tanjung Priok diperoleh bilangan Formzhl sebesar 3,80. Jadi tipe pasut di Teluk Jakarta dan laut Jawa pada umumnya adalah pasut bertipe tunggal. Berdasarkan peramalan pasut di Ujung Pandang yang dilakukan oleh DISHIDROS, diperoleh bilangan Formzahl sebesar 2,40. Sehingga pasut di Ujung Pandang bertipe campuran dengan tipe tunggal yang menonjol. Sedangkan kawasan Indonesia di bagian timur dipengaruhi oleh pasang surut setengah harian kecuali laut Arafura yang menunjukkan pasang surut campuran yang didominasi pasang surut harian/tunggal.
Tunggang pasang surut di perairan Indonesia bervariasi antara 1 sampai dengan 6 meter. Di Laut Jawa umumnya tunggang pasang surut antara 1 – 1,5 m kecuali di Selat madura yang mencapai 3 meter. Tunggang pasang surut 6 meter di jumpai di Papua (Diposaptono, 2007).
Pasang surut di stasiun pengukuran
Waktu Tolok : GMT ± 05.40, Sifat Pasut : Campuran condong keharian ganda
karakteristik dari pasang surut di Pelabuhan Bengkalis adalah campuran dengan condong ke harian ganda. Muka surutan (Zo) berada 170 cm dibawah DT. Tinggi air rata-rata pada pasang purnama adalah 288 cm, sedangkan pada pasang mati adalah 72 cm.
Dishidros TNI-AL
Janhidros (nama baru dari Dinas Hidro-oseanografi sejak 2006) yang memiliki peran sangat penting dan strategis. Pada masa damai Janhidros merupakan satu-satunya institusi yang bertanggungjawab terhadap penyiapan peta navigasi laut Indonesia. Sesuai dengan ketentuan International Hidrography Organization (IHO) sebagai wadah induknya dan juga kewajiban yang dimiliki Indonesia sebagai negara kepulauan. Data yang diperoleh dari hasil survei antara lain kondisi laut yang menyangkut cuaca, kelembaban udara, gelombang, angin, dan arus sangat diperlukan bagi dunia pelayaran. Data tersebut sangat dibutuhkan oleh para Komandan KRI dalam menentukan taktik dan senjata yang digunakan (geografiana.com).
Perangkat lunak analisa pasang surut (BPPT)
Software BPPT merupakan software peramalan pasang surut atau sebuah program analisis harmonik pasang surut. Peramalan pasang surut dapat dilakukan dengan membuat file baru atau membuka file yang sudah ada. File baru berisi stasiun, amplitudo, lokasi, dan fasa. Adapun membuka file yang sudah tersimpan berarti hanya memasukkan ramalan pasang surut yang diinginkan pada lokasi yang telah ditentukan. Tampilan dapat berupa grafik, tabel data dan komponen pasang surut.
Perangkat lunak analisa pasang surut NAOTIDE Sebuah program analisis pasang surut yang digunakan dengan software Fortran. Peramalan pasang surut dilakukan dengan mengganti lon/lat, tahun dan waktu prediksi pasang surut, serta mengganti nama keluaran data. Program ini telah dibuat sebagai program peramalan pasang surut.
Tipe pasut ditentukan oleh frekuensi air pasang dengan surut setiap harinya. Hal ini disebabkan karena perbedaan respon setiap lokasi terhadap gaya pembangkit pasang surut. Jika suatu perairan mengalami satu kali pasang dan satu kali surut dalam satu hari, maka kawasan tersebut dikatakan bertipe pasut harian tunggal (diurnal tides), namun jika terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam sehari, maka tipe pasutnya disebut tipe harian ganda (semidiurnal tides). Tipe pasut lainnya merupakan peralihan antara tipe tunggal dan ganda disebut dengan tipe campuran (mixed tides) dan tipe pasut ini digolongkan menjadi dua bagian yaitu tipe campuran dominasi ganda dan tipe campuran dominasi tunggal.
Selain dengan melihat data pasang surut yang diplot dalam bentuk grafik, tipe pasang surut juga dapat ditentukkan berdasarkan bilangan Formzal (F) yang dinyatakan dalam bentuk :
F = [A(O1) + A(K1)]/[A(M2) + A(S2)]
dengan ketentuan :
F ≤ 0.25 : Pasang surut tipe ganda (semidiurnal tides)
0,25
dimana:
F : bilangan Formzal
AK1 : amplitudo komponen pasang surut tunggal utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan dan matahari
AO1 : amplitudo komponen pasang surut tunggal utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan
AM2 : amplitudo komponen pasang surut ganda utama yang disebabkan oleh gaya tarik bulan
AS2 : amplitudo komponen pasang surut ganda utama yang disebabkan oleh gaya tarik matahari
Pada buku peramalan pasang surut yang dikeluarkan oleh DISHIDROS dan BOKOSURTANAL tertulis nilai komponen pasut tersebut baik amplitudo maupun fase pada beberapa lokasi di perairan Indonesia. Dengan mengetahui amplitudo komponen tersebut, maka dapat dihitung nilai bilangan Formzalnya.
Arus pasang surut
Pasut merupakan salah satu faktor dasar dalam pengkajian arus di laut. Gerakan arus pasut dari laut lepas yang merambat ke perairan pantai akan mengalami perubahan, faktor yang mempengaruhinya antara lain adalah berkurangnya kedalaman (Mihardja et,. al 1994). Permukaan air laut senantiasa berubah-ubah setiap saat karena gerakan pasut, keadaan ini juga terjadi pada tempat-tempat sempit seperti teluk dan selat, sehingga menimbulkan arus pasut (Tidal current).
Arus pasang surut yang terjadi di perairan teluk adalah gerakan massa air yang dipengaruhi oleh gerakan pasang surut yang merambat secara horizontal yang menyebabkan massa air kelaur masuk perairan tekuk. Kecepatan maksimum arus terjadi pada saat bulan mati (new moon) atau bulan penuh (Full moon), sedangkan kecepatan harian arus pasut dihubungkan dengan fluktuasi pasut.
Alat-alat pengukuran pasang surut
Pengukuran pasang surut dilakukan menggunakan Tide Staff, Tide Gauge dan satelit. Tide Staff adalah alat berupa papan yang telah diberi skala dalam meter atau centi meter. Papan skala atau Tide Staff banyak digunakan karena relatif murah, akan tetapi tingkat ketelitian data pengukuran bergantung pada pengguna. Tide Gauge, alat ini memiliki sensor yang dapat mengukur ketinggian permukaan air laut yang kemudian direkam ke dalam komputer. Satelit atau metode yang dipakai adalah metode Admiralty. Metode ini digunakan untuk menentukan amplitudo (A) dan fase (g) dari komponen-komponen utama pasang surut.
Pasang surut di perairan Indonesia
Keadaan pasang surut (pasut) di wilayah perairan Nusantara ditentukan oleh penjalaran pasang surut dari Samudra Pasifik dan India serta morfologi pantai dan Batimeri perairan yang kompleks, dimana terdapat banyak selat, palung dan laut yang dangkal sampai sangat dalam.
Pasang surut di stasiun pengukuran
Waktu Tolok : GMT ± 05.40, Sifat Pasut : Campuran condong keharian ganda
karakteristik dari pasang surut di Pelabuhan Bengkalis adalah campuran dengan condong ke harian ganda. Muka surutan (Zo) berada 170 cm dibawah DT. Tinggi air rata-rata pada pasang purnama adalah 288 cm, sedangkan pada pasang mati adalah 72 cm.
Dishidros TNI-AL
Janhidros (nama baru dari Dinas Hidro-oseanografi sejak 2006) yang memiliki peran sangat penting dan strategis. Pada masa damai Janhidros merupakan satu-satunya institusi yang bertanggungjawab terhadap penyiapan peta navigasi laut Indonesia. Sesuai dengan ketentuan International Hidrography Organization (IHO) sebagai wadah induknya dan juga kewajiban yang dimiliki Indonesia sebagai negara kepulauan. Data yang diperoleh dari hasil survei antara lain kondisi laut yang menyangkut cuaca, kelembaban udara, gelombang, angin, dan arus sangat diperlukan bagi dunia pelayaran. Data tersebut sangat dibutuhkan oleh para Komandan KRI dalam menentukan taktik dan senjata yang digunakan (geografiana.com).
Perangkat lunak analisa pasang surut (BPPT)
Software BPPT merupakan software peramalan pasang surut atau sebuah program analisis harmonik pasang surut. Peramalan pasang surut dapat dilakukan dengan membuat file baru atau membuka file yang sudah ada. File baru berisi stasiun, amplitudo, lokasi, dan fasa. Adapun membuka file yang sudah tersimpan berarti hanya memasukkan ramalan pasang surut yang diinginkan pada lokasi yang telah ditentukan. Tampilan dapat berupa grafik, tabel data dan komponen pasang surut.
Perangkat lunak analisa pasang surut NAOTIDE Sebuah program analisis pasang surut yang digunakan dengan software Fortran. Peramalan pasang surut dilakukan dengan mengganti lon/lat, tahun dan waktu prediksi pasang surut, serta mengganti nama keluaran data. Program ini telah dibuat sebagai program peramalan pasang surut.