PENGELOLAAN dan PENANGANAN SAMPAH DI JEPANG
PENGELOLAAN dan
PENANGANAN SAMPAH
DI JEPANG
I.PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Permasalahan sampah di Indonesia mengalami klimaks ketika
dihadapi dengan sampah. Sikap Pemerintah dan masyarakat tidak saling mendukung
untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Menurut Nasir (2010), persoalan
sampah mungkin menjadi masalah tanpa solusi bagi negara-negara berkembang,
namun tidak bagi negara maju seperti di Jepang yang mempunyai aturan mengenai
tempat pengolahan sampah terpadu yang tersedia di daerah tersebut. Secara umum,
cara pemisahan sampah di Jepang adalah sistem 3R, yakni mengurangi semaksimal
mungkin arus sampah menuju TPA (reduce),
memanfaatkan kembali barang-barang yang masih bisa digunakan (reuse), dan mendaur ulang material
tertentu (recycle).
Untuk
mempelajari teknologi pengelolaan sampah di Jepang, diperlukan penyuluhan yang
tepat sasaran. Sehingga, masyarakat Indonesia dapat merubah pola pikir positif
terhadap sampah. Perubahan lingkungan pun akan berjalan menjadi lingkungan yang
kondusif untuk dijadikan tempat tinggal. Banyak manfaat yang didapatkan jika
sama-sama sadar akan pentingnya kebersihan di sekitar kita.
Artikel
ini membahas kondisi sampah di negara Indonesia dan Jepang. Untuk itulah,
artikel dibuat dengan tujuan membandingkan dan mempelajari pengelolaan sampah
di kedua negara. Selain itu, memberi wawasan pengelolaan sampah di negara
Jepang. Diharapkan, pembaca dapat mengambil sisi positif dan mengaplikasikannya.
1.2. Tujuan
Tujuan artikel ini adalah membahas, mempelajari dan memberi wawasan tentang pengelolaan sampah
di Negara maju seperti Jepang yang layak diadopsi dan diaplikasikan di negara
Indonesia.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
Pelaku
Pelaku yang terlibat dalam artikel
ini adalah masyarakat dan Pemerintah.
Permasalahan
Permasalahan yang dibahas adalah pertambahan
penduduk di Negara Jepang yang menyebabkan sampah dan limbah di semakin tidak
dapat diatasi. Ditambah lagi, tempat pembuangan sampah akhir di Jepang yang
terbatas.
Tujuan
Tujuan artikel ini adalah membahas,
mempelajari dan memberi wawasan tentang
pengelolaan sampah di negara maju seperti Jepang yang layak diadopsi dan
diaplikasikan di negara Indonesia.
Sasaran
Sasaran yang ingin dicapai antara
lain secara umum masyarakat di Jepang, meminimalisir volume sampah dan
merubahnya ke materi yang lebih berguna. Secara khusus, diharapkan Indonesia
dapat mengaplikasikannya untuk lingkungan yang lebih sehat dan kondusif.
Kerjasama yang baik antara Pemerintah dan masyarakat dapat merealisasikannya.
Lokasi
Lokasi yang dibahas pada negara
Jepang dan Indonesia.
Strategi
yang dipakai
Strategi yang dilakukan oleh Pemerintah Jepang adalah
dengan munculnya kebijakan yang dikenal dengan istilah 3R, yakni mengurangi
semaksimal mungkin arus sampah menuju TPA (reduce), memanfaatkan kembali
barang-barang yang masih bisa digunakan (reuse), dan mendaur ulang material
tertentu (recycle). Selain itu, dengan pengaplikasian teknologi yang berkembang
seperti :
1.
Teknologi Pembakaran
Stoker
Bagian utama
fasilitas pembakaran, terdiri dari fasilitas receiving dan supply,
fasilitas pembakaran, fasilitas pendinginan gas pembakaran, fasilitas
pengolahan gas emisi, fasilitas pembangkit listrik, fasilitas pemanfaatan panas
sisa, fasilitas pengeluaran abu, serta pengolahan air buangan. Tungku
pembakaran yang menjadi jantung fasilitas pembakaran, dari formatnya dapat
dibagi secara gamblang menjadi tipe stoker dan tipe aliran dasar. Tipe stoker
adalah mainstream tungku pembakaran, memiliki sejarah panjang, dan jumlah
fasilitasnya jauh lebih banyak. Dengan stoker yang bergerak kedepan-belakang
sampah diaduk, untuk pengeringan dan pembakaran digunakan berbagai macam tungku
dari tipe kecil hingga ke yang besar. Selain itu, bentuk tungku pembakaran
dapat dibagi menjadi tungku aliran berlawanan, tungku aliran tengah, dan tungku
aliran searah. Bentuk tungku yang digunakan untuk pembakaran berbeda-beda
tergantung karakter sampah yang dijadikan obyek.
2.
Pengolahan abu
Debu yang
dikumpulkan dengan penghisap debu banyak mengandung logam berat atau dioksin,
ditetapkan sebagai sampah umum kontrol khusus dan diwajibkan atasnya berbagai
proses seperti proses sementasi, proses chelation, ekstraksi asam atau solvent/
netralisasi, peleburan, dan burning. Di antara ini semua, pada peleburan abu
bakaran atau abu terbang dipanaskan pada suhu 1250 1450 atau lebih dengan
menggunakan panas pembakaran bahan bakar atau energi listrik, san abu dijadika
slag. Karena diproses suhu tinggi, dioksin dalam residu pembakaran pun 99 % ke
atas terurai. Abu yang telah dijadikan slag, selain mengalami penyusutan
volume, juga mengalami netralisasi racun, karena itu pemanfaatan ulang terbuka
lebar, sehingga dapat dipertimbangkan sebagai andil dalam memperpanjang umur
tempat pembuangan akhir.
3.
Pemanfaatan pembangkit listrik dan panas sisa
Uap panas
tekanan tinggi yang dihasilkan boiler, dikirim ke turbin uap, dan turbin
melakukan kerja dengan berputar, semakin besar selisih panas antara inlet dan outlet semakin besar pula daya listrik yang dibangkitkan oleh kerja
turbin uap per kuantitas uap. Karena itu, improvisasi persyaratan inlet turbin
dengan cara membuat boiler panas dan tekanan tinggi, di samping improvisasi
tingkat kevakuman pada outlet turbin (tekanan rendah outlet) merupakan jalan
untuk mendapatkan daya listrik tinggi. Selain itu, sebagai pemanfaatan
sisa panas, uap yang dihasilkan boiler dimanfaatkan secara langsung atau
melalui alat penukar panas untuk membuat air hangat yang itu kemudian digunakan
di internal atau eksternal fasilitas.
4.
Tungku
Pelelehan Berbahan Bakar Gas
Tungku
pelelehan berbahan bakar gas terdiri dari 3 tipeyaitu, tipe fluida dasar, tipe kiln, dan tipe tungku
shaft. Terdapat berbagai karakteristik seperti pengurangan drastis jumlah emisi
dioksin dengan pembakaran suhu tinggi, perampingan fasilitas pengolahan gas
emisi dengan pembakaran rasio udara rendah, serta tidak diperlukannya sumber
panas eksternal karena pemanfaatan panas yang dimiliki sampah untuk pelelehan
abu sampah. Mesin ini memiliki reputasi pengoperasian yang semakin bertambah
namun, mesin ini memerlukan input energi pembantu, ketidakcocokan dengan sampah
kalori rendah, kesulitan penanganan slag, serta parahnya kerusakan bahan tahan
api.
5.
Tungku
Stoker Generasi Baru
Konsep total
masing-masing perusahaan mengenai tungku stoker generasi baru berbeda dalam hal
pembakaran suhu tinggi dengan rasio udara rendah dan pencapaian efisiensi
pembakaran tinggi, penurunan konsentrasi dioksin, pengurangan kunatitas gas
emisi, rasio pemanfaatan panas dan peningkatan efisiensi pembangkit listrik,
serta tingkat kebersihan dari debu. Perkembangan ini harus dikontrol secara
berkelanjutan.
Pembuatan RDF dan Pengolahan Wilayah Luas
RDF (Refuse Derived Fuel) adalah bahan bakar
yang dibentuk seperti krayon dengan mencampurkan batu abu ke sampah yang telah
dipisahkan dari sampah yang tidak terbakar. Hal ini berguna supaya sampah tidak membusuk walaupun disimpan dalam waktu lama, dan
sangat praktis untuk pengangkutan. Jika kualitasnya homogen pembakaran akan stabil.
6.
Jenis
serta Struktur Tempat Pembuangan Akhir
Tempat pembuangan akhir dilakukan dengan metode penempatan yang diatur
menurut undang-undang pengolahan sampah dan dibagi menjadi tempat pembuangan
tipe aman, tempat pembuangan terkontrol, dan tempat pembuangan
terisolasi serta penerimaan sampah umum ditangani oleh tempat pembuangan
terkontrol.
7.
Teknologi
Pengolahan Air Rembesan
Penimbunan
sampah akan mempengaruhi kualitas air rembesan (lindih), skala tanah timbunan,
kedalaman, kondisi iklim, dan konstruksi timbunan. Pengolahan ini disesuaikan
dengan standar kapasitas buangan yang mengikuti lokasi tetapi, proses awal/
penyesuaian, proses biologi dan proses kimiawi menjadi bagian utama dalam
pengolahan lindih yang dihasilkan setelah diolah dan dikirim ke lokasi penimbunan.
Evaluasi
dalam artikel
Jepang merupakan negara maju yang memiliki masyarakat yang banyak. Seiring
dengan bertambahnya penduduk jumlah sampah dan limbah yang dihasilkan juga
semakin bertambah. Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan aturan kepada masyarakat
untuk melakukan 3R (reduce, recycle, dan
refuce). Pemerintah juga berperan
dalam penyediaan fasilitas seperti, teknologi mengenai pengelolaan sampah melalui
pembakaran stoker, pengolahan abu, pemanfaatan pembangkit listrik dan panas sisa, tungku pelelehan berbahan bakar gas, tungku stoker generasi baru, struktur
tempat pembuangan akhir, teknologi pengolahan air rembesan serta melakukan riset-riset
untuk penanganan sampah.
Evaluasi dari kelompok
Permasalahan penanganan sampah di Negara Jepang juga dapat dilakukan dengan
berbagai cara seperti:
·
pemakaian bahan pembungkus makanan/ kemasan produk yang mudah terurai.
·
Mendaur
ulang sampah menjadi peralatan/barang yang lebih berguna
·
Mengolah sampah menjadi pupuk organic
·
Memanfaatkan
sampah menjadi produk kreatifitas yang memilki nilai ekonomi.
·
Peran
pemerintah dalam menetapkan peraturan yang berkelanjutan
·
Menyediakan
tempat pembuangan sampah, diberbagai pemukiman dan tempat umum